0
Thumbs Up
Thumbs Down

Makanlah Secukupnya, Jangan Berlebihan

Republika Online
Republika Online - Fri, 17 May 2019 19:22
Dilihat: 33
Makanlah Secukupnya, Jangan Berlebihan

JAKARTA -- Di zaman post-modern sekarang ini, makan dan sajian makanan sudah menjadi hal yang kompleks. Lebih-lebih di kota besar, ketika sebagian orang mencari sesuap nasi sejak dini hari, sebagian yang lain justru baru pulang dari makan dan minum di bar-bar atau kafe.

Tingkah manusia dalam soal makan juga macam-macam. Kita sering mendengar sindiran, bahwa kalau orang miskin masih bingung mesti makan 'apa' hari ini, maka orang kaya selalu bingung makan 'di mana'. Adapun mereka yang teramat kaya (dan tidak punya moral Pancasila) -- dan duitnya berlimpah dari kredit bermasalah, misalnya -- sudah tidak memikirkan makan 'di mana', tapi lebih dari itu: makan 'siapa' hari ini.

Terlepas dari kelakar tadi, Islam sendiri sebetulnya membolehkan kita makan apa saja, kecuali yang jelas-jelas haram -- dan itu sangat sedikit macamnya. Meski begitu, dalam soal makan ini Alquran menggarisbawahi: 'jangan berlebih-lebihan' dan semua makanan harus tayyiban bagi tubuh kita.

Para ahli tafsir mengartikan tayyiban sebagai yang memberi manfaat bagi tubuh, bergizi. Kolesterol dalam daging sapi memang halal, tapi tidak tayyib bagi orang yang mempunyai penyakit darah tinggi. Perintah makan -- yang di dalam Alquran disebut sebanyak 187 kali dalam berbagai konteks dan arti -- selalu menekankan salah satu dari dua hal itu, yakni makanan harus 'halalan' dan 'tayyiban'.

Mereka yang kaya juga boleh makan 'apa' saja (bukan 'siapa' saja), sepanjang kekayaannya bukan berasal dari sumber yang haram. Namun yang perlu diingat, sekaya apa pun kita, toh kemampuan perut tetap sama dengan mereka yang miskin. Lambung orang yang gemuk sekali pun cuma mampu menampung 18-3 piring nasi, atau 3-4 buah hamburger plus satu gelas minuman soda.

Lebih dari itu, namanya kelewatan. Dan itu sudah jadi haram, meskipun daging yang mereka makan telah disembelih dengan membaca bismillah seratus kali. Itu sebabnya Islam menganjurkan untuk selalu menenggang tetangga, fakir miskin, anak yatim, dan mereka yang sulit dapat makanan -- sebelum memikirkan diri sendiri.

Itulah pesan moral agama Islam. Itu sebabnya, kalau kita tidak mampu puasa Ramadhan dan tidak pula mampu menggantinya dengan puasa di hari-hari lain, kita diwajibkan untuk menggantinya dengan memberi makan kepada fakir miskin. Dan haji kita juga tidak diterima, kalau masih ada tetangga kita yang kelaparan.


Berita Terkait
  • Mengatasi Konflik Batin
  • Kesibukan Personel Snada Selama Ramadhan
  • Merenungi Kematian
Berita Lainnya
  • Keterlibatan Bulog dalam BPNT Ciptakan Integrasi Hulu-Hilir
  • Ini Perbedaan Marquez dan Lorenzo di GP Jerez

Makanlah Secukupnya, Jangan Berlebihan

Makanlah Secukupnya, Jangan Berlebihan

Makanlah Secukupnya, Jangan Berlebihan

Makanlah Secukupnya, Jangan Berlebihan

Makanlah Secukupnya, Jangan Berlebihan

  
PARTNER KAMI
JPNN
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
inilahcom
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
MuterFilm
Rancahpost
Mobilmo
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya