0
Thumbs Up
Thumbs Down

Wakaf Kunci Membangun Umat

Republika Online
Republika Online - Mon, 15 Jul 2019 21:41
Dilihat: 36
Wakaf Kunci Membangun Umat

JAKARTA -- Mendakwahkan Islam membutuhkan sinergi dan potensi. Tak bisa mengandalkan kekuatan sendiri. Rasulullah SAW, misalkan, menyebarluaskan tauhid dibantu para sahabat yang masingmasing memiliki keunggulan.

Abu Bakar, misalnya, mewakafkan seluruh hartanya untuk kepentingan dakwah Islam. Umar dan Usman mewakafkan sebagian hartanya untuk dakwah. Ali memiliki keunggulan dalam ilmu pengetahuan dan kecerdasannya.

H Tony Budi Hartono menyimpulkan, harta merupakan salah satu penyokong kesuksesan dakwah selain sumber daya manusia. Seperti para sahabat, dia mewakafkan ratusan hektare tanahnya untuk pengembangan Pesantren Trubus Iman di Tanah Grogot, Kabupaten Tanah Paser, Kalimantan Timur.

Lembaga pendidikan Islam tersebut kini dikembangkan oleh tenaga yang berilmu agama jebolan dalam dan luar negeri yang mendidik 1.300 santri. Wartawan Republika, Erdy Nasrul, berkesempatan mewawancarai H Tony di Kompleks Pesantren Trubus Iman pekan lalu. Berikut petikannya.

Bagaimana cerita Anda menjadi pewakaf?

Inspirasi wakaf bermula saat menyekolahkan anak di Gontor mendekati milenium ketiga. Ketika datang ke Gontor, saya berdialog dengan para wali santri tentang Gontor yang mendapatkan wakaf 300 hektare tanah sawah.

Keluarga pewakaf kalau datang ke Gontor putri menangis bahagia karena tanah yang diwakafkan dimanfaatkan un tuk kelangsungan pembelajaran para san tri. Begitu juga dengan Gontor VI di Ma ge lang. Lahan di sana juga merupakan wakaf.

Selama 12 tahun saya memperhatikan dinamika wakaf di Gontor sambil menyekolahkan dua anak saya, Reza Jehan Lesmana dan Anisa Indah Lestari. Dari situlah saya terinspirasi untuk mewakafkan tanah. Tapi, ketika itu hanya wakaf, belum ada keinginan membangun pesantren.

Situasi di Kalimantan sangat mungkin dimanfaatkan untuk gerakan wakaf. Ada saja orang-orang yang memiliki lahan berlebih sehingga sebagiannya bisa diwakafkan kepada pesantren.

Setelah itu mencoba mewakafkan aset?

Tahun 1999 saya mewakafkan 10 hektare lahan untuk Pesantren Babussalam di sini. Tak hanya menjadi wakif, saya ternyata dimasukkan sebagai pendiri yayasan pesantren tersebut. Keterlibatan saya di sana adalah memasukkan nilai universal agar lembaga pendidikan tersebut lebih terbuka dan dapat merangkul berbagai pihak.

Para pendiri di dalamnya banyak berafiliasi pada ormas tertentu. Saya kemudian berpikiran bagaimana kalau nama pesantren ini tidak mencantumkan nama ormas tertentu. Sehingga, lebih terkesan terbuka dan diterima berbagai kalangan. Sejak itu namanya menjadi Babussalam.

Setelah Babussalam, Pak Haji mendirikan Pesantren Trubus Iman?

Pada 2010, saya mencalonkan diri menjadi kepala daerah di Kabupaten Tanah Paser ini. Namun, gagal. Setelah itu saya berpikir, ada potensi lain yang menjadi passion, yaitu lahan dan pesantren. Kita kelola sendiri sehingga bisa bermanfaat untuk umat.

Santri berdatangan ke sini untuk belajar dari berbagai daerah di Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, dan sekitarnya. Sekarang sudah ada ada 1.300 santri dari mulai PAUD, TK, sampai madrasah aliyah.

Seperti apa sistem pembelajaran di Pesantren Trubus Iman?

Ini berkaitan dengan kunjungan dua petinggi Pondok Modern Gontor, Prof Dr Amal Fathullah Zarkasyi dan Dr Dih yatun Masqan, pada saat pondok ini berusia tiga tahun. Mereka menginap di gedung al-Kahfi. Sehari-hari mereka mengelilingi area pondok yang sudah tertata. Bangunan kelas, asrama, masjid, lapangan, dan berbagai fasilitas lainnya berada di tempat yang tepat sehingga enak dilihat.

Dua orang ini terkagum. Setelah menikahkan anak saya, Anisa Indah Lestari dengan Ustaz Daniar Siahaan, mereka bertandang ke rumah. Muncullah pertanyaan, bagaimana ceritanya bisa membangun pondok dengan perkembangan yang menggembirakan.

Saya menceritakan, ini adalah ijtihad saya 'memotong kompas' dari apa yang ada di Gontor. Dari sekian panjang per ja lan an Gontor, saya menyimpulkan wa kaf menjadi kunci membangun umat. Karena itulah, saya mewakafkan tanah untuk Pesantren Trubus Iman. Kelak itu akan membawa keberkahan untuk masyarakat luas.

Mengapa harus dengan wakaf?

Biasanya pesantren dibangun dari hasil sumbangan, membuat proposal untuk mendapatkan bantuan. Saya berijtihad tak harus seperti itu. Sangat mungkin pesantren berdiri dari hasil wakaf sendiri.


Berita Terkait
  • Filantropi Islam; Kedermawanan yang Bisa Turunkan Kemiskinan
  • Literasi Masyarakat tentang Wakaf Dinilai Masih Terbatas
  • BWI: Potensi Wakaf Rp 10 Triliun Setahun
Berita Lainnya
  • Anne Avantie tak Nilai Negatif Lansia Dititip di Panti Jompo
  • Setkab: Jateng dan Jatim Jadi Contoh Sinergi Pusat-Daerah

Wakaf Kunci Membangun Umat

Wakaf Kunci Membangun Umat

Wakaf Kunci Membangun Umat

Wakaf Kunci Membangun Umat

Wakaf Kunci Membangun Umat

  
PARTNER KAMI
JPNN
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
inilahcom
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
MuterFilm
Rancahpost
Mobilmo
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya