0
Thumbs Up
Thumbs Down

Usia Perokok Pemula Semakin Muda

Republika Online
Republika Online - Sat, 05 Jun 2021 02:05
Dilihat: 48
Usia Perokok Pemula Semakin Muda

JAKARTA -- Pengamat Ekonomi, Faisal Basri, mengatakan saat ini penetrasi industri rokok di Indonesia semakin merajalela. Ia mengatakan, jumlah perokok belia di Indonesia sangat mengkhawatirkan karena usia awal orang pertama kali merokok saat ini bertambah muda.

Perokok pemula sebelumnya mulai pertama kali merokok pada 15-19 tahun. Namun, saat ini, usia seseorang mulai merokok bertambah muda yakni usia 10-14 dan jumlahnya semakin banyak.

Tidak hanya itu, berdasarkan data dari World Population Review, rata-rata laki-laki merokok di Indonesia tertinggi di dunia yaitu 76 persen. Sebelumnya, persentase laki-laki merokok terbanyak ada di negara Yordania.

"Ini tentu saja mengkhawatirkan karena pada umumnya di hampir semua negara di dunia, smoking rate ini menurun. Kalau kita masih naik terus. Jadi betul-betul Indonesia itu surga buat industri rokok," kata Faisal, dalam diskusi daring, Jumat (4/6).

Terkait hal ini, Faisal mendorong adanya revisi regulasi rokok yaitu PP Nomor 109 Tahun 2012. Namun, revisi ini memang mengundang kontroversi dari berbagai pihak dan disebut akan merugikan petani. Menurut Faisal, revisi PP Nomor 109 Tahun 2012 merugikan petani hanyalah mitos.

Ia menjelaskan, jika revisi dilakukan, maka pabrik rokok tidak akan langsung mengurangi pembelian dari petani tembakau. Sebab, produksi tembakau di Indonesia jauh lebih rendah dari kebutuhan pabrik rokok yang sedang beroperasi saat ini.

"Produksi tembakau lokal itu 200 ribu ton, kebutuhannya sekitar 300 ribu ton. Jadi, seluruh produksi nasional bakal terserap oleh industri pengguna tembakau," kata Faisal menambahkan.

Selain itu, poin lain yang masih menimbulkan keraguan dalam revisi regulasi rokok ini adalah risiko munculnya rokok ilegal yang semakin marak. Menurut Faisal, maraknya produk ilegal bukan hanya terjadi pada rokok. Oleh karena itu, penting untuk memberdayakan aparat penindak barang-barang ilegal.

Ia juga menyinggung soal ketakutan berkurangnya penerimaan negara jika regulasi rokok direvisi. Faisal berpendapat, tugas hakiki negara adalah mendorong penciptaan nilai, bukan pengerukan nilai. Jika terus mementingkan penerimaan daripada kesehatan maka menurutnya hal ini sudah melanggar nilai.

"Kalau pemerintah terus mengandalkan penerimaan rokok, artinya ekstraksi nilai yang tidak beradab karena tidak mengedepankan kesehatan," kata dia lagi.




Berita Terkait
  • Ditargetkan Turun, Jumlah Perokok Anak Malah Naik
  • APTI: Cukai Rokok Naik, Impor Tembakau Harus Dibatasi
  • Ribuan Buruh Pabrik Rokok di Jatim Terancam PHK pada 2020
Berita Lainnya
  • Usia Perokok Pemula Semakin Muda
  • Kemnaker Siapkan Pelatihan Vokasi Korban PHK Giant

Usia Perokok Pemula Semakin Muda

Usia Perokok Pemula Semakin Muda

Usia Perokok Pemula Semakin Muda

Usia Perokok Pemula Semakin Muda

Usia Perokok Pemula Semakin Muda

  
PARTNER KAMI
JPNN
genpi
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
pijar
SeleBuzz
Mobilmo
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya