0
Thumbs Up
Thumbs Down

Tiada Setetes Darah Bharata dalam Saya dan Dian Sastro pula Pandawa dan Kurawa

Antvklik
Antvklik - Mon, 19 Oct 2020 21:06
Dilihat: 23
Tiada Setetes Darah Bharata dalam Saya dan Dian Sastro pula Pandawa dan Kurawa

Darah Bharata menurunkan Wangsa Bharata. Begitulah yang seharusnya. Namun ternyata tidak dalam kitab Mahabharata. Bahkan, tidak ada setetes darah Bharata yang diturunkannya. Tidak dalam Pandawa pun Kurawa. Tidak pula dalam saya pun Dian Sastro.

antvklik.com - Muak!

Ya! Muak karena setiap hari disuguhi berita dan informasi tentang pandemi, tentang Covid-19 yang tidak enak disimak. Situasi politik negeri yang sudah tidak ciamik. Celoteh para narsis yang hanya membuncahkan konflik.

Saat itu pukul 14.35 WIB. Hasrat menulis amat tipis. Saya alihkan pandangan dari laptop lawas andalan ke deretan televisi. Ada tayangan Mahabharata di stasiun televisi ANTV.

Tiba-tiba jiwa saya menerawang jauh ke seberang lautan. Mata saya terpejam. Tipis bedanya apakah saya saat itu melamun atau tertidur. Saya bertanya-tanya tentang wangsa Bharata yang sangat populer ini.

Spontan nampak satu area luas dengan panorama hijau indah, aliran air yang bening, dan penduduk yang bersuka cita. yang tanah dan bebatuannya berkilau bagai kaca. Hastinapura?

Spontan kemudian berganti menjadi hiruk pikuk. Api beterbangan di angkasa. Asap mengepul pekat di daratan. Kilat menyambar-nyambar langit maupun bumi. Desing, dengung dan denting memekakkan telinga. Orang-orang terkapar di jalanan. Bharatayudha?

Mahabharata ... Bharatayudha ... Bharata? Ya! Bharata adalah sumber utama wiracarita Mahabharata. Sumber utama adanya Wangsa Bharata hingga Bharatayudha.

Ah, saya tersadar. Menyeruput es teh setengah manis, tersenyum, karena jadi ingat Dian Paramita Sastrowardoyo. Dian Sastro. Si jelita yang menjadi dambaan hampir semua laki-laki di seantero Indonesia kecuali saya. Sri Munaroh adalah the one and only buat saya.

Tiga tahun silam, 2017, Dian pernah bercerita kepada saya secara tidak langsung, melalui instagramnya yang belum saya follow hingga akhirnya hari ini saya following, tentang penggalan kisah Mahabharata versi R.A. Kosasih.

Jeng Dian bercerita tentang perjalanan cinta Prabu Santanu yang menjomblo sekian lama. Prabu Sentanu adalah turunan ke-8 dari Prabu Nahusta.

Santanu saat itu berburu ke dalam rimba dan menyusuri Sungai Gangga, kemudian bertemu Satyawati dan langsung jatuh cinta. Satyawati adalah janda dari Begawan Palasara.

Satyawati hanya mau dipinang Santanu jika anaknya kelak menjadi putra mahkota. Prabu Santanu galau. Permintaan ini ditolak Santanu yang sangat sayang pada Dewabrata, anak tunggalnya. Dewabrata yang berhak atas tahta Hastinapura. Namun, Santanu juga memendam rasa cinta mendalam pada Satyawati, sehingga dia jatuh sakit berhari-hari.

Santanu yang saat itu adalah raja muda Hastinapura jatuh cinta secara kepada Dewi Gangga yang dihukum turun ke Bumi. Dari pernikahan ini lahir Dewabrata. Sesudah hukumannya habis, Dewi Gangga kembali ke kahyangan.

Dewabrata mengetahui musabab ayahandanya sakit setelah bertanya kepada sais kereta ayahnya. Pertemuan sang ayah dengan seorang gadis penangkap ikan di pinggiran sungai Yamuna.

Kemudian Dewabrata pergi kepada ayah perempuan itu, dan meminangkannya untuk Prabu Santanu. Dewabrata juga bersumpah pada Satyawati bahwa dia tidak akan menjadi raja. Ini membuat Satyawati mau dipinang Santanu.

Santanu dan Setyawati akhirnya menikah dan dikaruniai dua anak yaitu Citragada dan Wicitrawirya.

Dewabrata bahkan kemudian bertapa, mengucapkan sumpah yang dahsyat untuk melakoni hidup Wadat atau Selibat, tidak akan beristri hingga akhir hayat agar tidak ada keturunannya yang mempeributkan tahta.

https://www.instagram.com/p/B02NElcBOk2/?utm_source=ig_embed&utm_campaign=embed_video_watch_again

Ketulusan hati Dewabrata sampai ke langit. Kahyangan gonjang-ganjing. Langit gemerlapan. Terdengar puja-puji mantram mengiringi turunnya Bathara Narada.

Batara Narada turun dan memberkati Dewabrata. Ada tiga hal dahsyat yang disampaikannya untuk Dewabrata:

1. Tapanya diterima para dewa

2. Namanya berganti menjadi Bhisma

3. Mahasakti, selalu menang perang

4. Menentukan sendiri ajalnya

Oke, ini artinya sudah terang-benderang Dewabrata alias Bhisma tidak menjadi pewaris tahta Hastina. Ini artinya pula tidak ada darah Wangsa Bharata pada pewaris tahta Hastinapura setelah Prabu Santanu.

Setelah kematian Santanu, Citragada menggantikan sang ayah, dengan didampingi Bhisma. Citragada kemudian dikisahkan mati saat berperang dan digantikan Citrawirya, adiknya.

Ini yang menarik dan saya yakin Jeng Dian Sastro akan mengangguk-angguk setelah mendengarnya. Bahwa menurut logika, pewaris tahta Hastinapura yang sah secara darah hanya tiga yaitu Bhisma, Citragada dan Citrawirya.

Mengapa? Karena mereka anak sah Prabu Santanu.

Sedangkan faktanya, justru Pandawa dan Kurawa adalah keturunan Abiyasa.

Sebagai tambahan, ini silsilah singkat Pandawa dan Kurawa:

Wicitrawirya kemudian menikahi dua putri Kerajaan Kasi yaitu Ambika dan Ambalika. Namun tidak berketurunan.

Dengan segala pertimbangan akhirnya Setyawati meruntuhkan egonya soal anak yang harus naik tahta. Beserta para tetua Hastinapura, Setyawati meminta Bhisma untuk naik tahta. Bhisma menolak, karena dirinya sudah bersumpah.

Bhisma justru menyarankan Setyawati meminta Abiyasa, anak hasil pernikahannya dengan Begawan Palasara. Abiyasa memang telah terlupakan karena kejelekan wajah dan baunya.

Abiyasa bersedia memberikan keturunan kepada Hastinapura lewat Ambika dan Ambalika, lalu akan kembali bertapa. Dari Ambika lahir Destarata sedangkan dari Ambalika lahir Pandu Dewanata.

Pandu memiliki dua istri, Kunti dan Madrim. Dari rahim Kunti lahir Yudistira, Bima, dan Arjuna. Sedangkan hasil perkawinannya dengan Madrim lahir Nakula dan Sadewa. Kelima anak Pandu ini kemudian dikenal dengan PANDAWA.

Setelah Pandu meninggal, tahta kerajaan dipegang oleh Destarata. Pernikahan Destarata dengan Gandari, putri Kerajaan Gandhara Pakistan sekarang, melahirkan seratus anak (99 laki-laki dan seorang perempuan) yang dikenal dengan KURAWA.

Drama kehidupan wangsa besar ini bahkan ditulis Mpu Wyasa, Mahabharata judulnya. Kitab ini terdiri dari delapan belas kitab, maka dinamakan Astadasaparwa (asta = 8, dasa = 10, parwa = kitab).

Apakah kisah dalam Mahabharata ini simbolik atau kejadian nyata? Entah ...

Sumber: Antvklik

Tiada Setetes Darah Bharata dalam Saya dan Dian Sastro pula Pandawa dan Kurawa

Tiada Setetes Darah Bharata dalam Saya dan Dian Sastro pula Pandawa dan Kurawa

Tiada Setetes Darah Bharata dalam Saya dan Dian Sastro pula Pandawa dan Kurawa

Tiada Setetes Darah Bharata dalam Saya dan Dian Sastro pula Pandawa dan Kurawa

Tiada Setetes Darah Bharata dalam Saya dan Dian Sastro pula Pandawa dan Kurawa

  
PARTNER KAMI
JPNN
genpi
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
harian pijar
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya