0
Thumbs Up
Thumbs Down

Rizal Ramli Lantang Bersuara: Inilah yang Merusak, Jadi Presiden Lebih Gila Lagi

wartaekonomi
wartaekonomi - Sat, 24 Oct 2020 10:39
Dilihat: 40
Jakarta

Ekonom Senior Rizal Ramli dengan tegas menyatakan ada pergeseran makna demokrasi dalam setiap pergantian pemimpin di Indonesia.

Bahkan, ia menyebut demokrasi di Indonesia saat ini sudah melenceng jauh dari makna yang sesungguhnya.

"Setelah kejatuhan Soeharto hanya jadi demokrasi prosedural. Lama-lama jadi demokrasi kriminal," ujarnya, dalam kanal YouTube Karni Ilyas bertajuk Karni Ilyas Club Rizal Ramli Pak Jokowi Lebih Dengar Saya, seperti dikutip, Sabtu (24/10/2020).Baca Juga: Rizal Ramli Kritik Pedas ke Wapres Maruf Amin: Antara Ada dan Tiada

Lanjutnya, ia mengatakan demokrasi dianggap kriminal karena demokrasi sudah tidak bekerja untuk rakyat dan bangsa Indonesia.

"Tapi bekerja untuk bandar-bandar yang membiayai calon," katanya.Baca Juga: Ernest Kecewa Berat sama Pemerintah, Rizal Ramli Langsung Nyamber Pakai Jempol

Sambungnya, sejatinya yang memilih para kandidat kepala daerah adalah para bandar yang dimaksudnya.

Bandar-bandar itu, kemudian membiayai seluruh keperluan untuk memenangkan kandidat yang dibiayainya. Termasuk biaya untuk survei sampai seluruh kebutuhan pemenangan lainnya.

"Begitu yang bersangkutan terpilih, dia ngabdi sama bandarnya, bukan sama kepentingan nasional maupun rakyat biasa," tuturnya.

Karena kondisi tersebutlah, ia lebih memilih mengajukan judicial review (JR) ke Mahkamah Konstitusi (MK) terkait ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold.

"Supaya threshold yang jadi sekrup pemerasan dari sistem demokrasi kriminal ini dihapuskan," katanya.

Ia pun merujuk perpolitikan dunia, yang mana sudah ada sekitar 48 negara yang tak lagi menganut sistem ambang batas.

Sementara itu, ia mengatakan Indonesia masih menggunakan cara lama dan sudah ketinggalan. "Kita nih norak dan ketinggalan," katanya.

Kemudian, ia pun menyebut bahwa untuk menjadi seorang bupati, maka seorang kandidat harus mengeluarkan biaya sampai Rp60 miliar.

Sedangkan untuk menjadi Gubernur di Pulau Jawa, dibutuhkan biaya minimal Rp300 miliar bahkan Rp1 triliun.

"Inilah yang merusak. Jadi presiden lebih gila lagi, biaya partainya aja bisa hampir berapa triliun itu," tukasnya.

Penulis: Redaksi

Editor: Vicky Fadil


Foto: Sufri Yuliardi

Sumber: wartaekonomi

Rizal Ramli Lantang Bersuara: Inilah yang Merusak, Jadi Presiden Lebih Gila Lagi

Rizal Ramli Lantang Bersuara: Inilah yang Merusak, Jadi Presiden Lebih Gila Lagi

Rizal Ramli Lantang Bersuara: Inilah yang Merusak, Jadi Presiden Lebih Gila Lagi

Rizal Ramli Lantang Bersuara: Inilah yang Merusak, Jadi Presiden Lebih Gila Lagi

Rizal Ramli Lantang Bersuara: Inilah yang Merusak, Jadi Presiden Lebih Gila Lagi

  
PARTNER KAMI
JPNN
genpi
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya