0
Thumbs Up
Thumbs Down

Polusi Udara Tewaskan 98 Ribu Orang di Seluruh Dunia

Republika Online
Republika Online - Fri, 10 Jul 2020 20:22
Dilihat: 69
Polusi Udara Tewaskan 98 Ribu Orang di Seluruh Dunia

JAKARTA -- Sejak awal 2020 sudah sekitar 98 ribu orang di seluruh dunia meninggal lebih dini. Penyebabnya, diperkirakan karena buruknya kualitas udara di tempat mereka tinggal.

Demikian laporan aktivis lingkungan. Bagaimana dengan di Indonesia?

Awal tahun ini, publik disuguhi gambar-gambar udara bersih dan langit yang cerah akibat lockdown pandemi corona. Namun nyatanya sejak awal tahun 2020, polusi udara masih bertanggung jawab atas kematian prematur sekitar 98.000 orang di dunia.

Sementara potensi kerugian ekonomi diperkirakan mencapai 56,5 miliar dolar AS. Hal ini didasarkan pada perangkat penghitungan udara bersih yang diluncurkan oleh gabungan aktivis lingkungan pada hari Kamis (9/7).

Perangkat yang dapat melakukan kalkulasi polusi udara secara online ini diluncurkan oleh Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA) yang berbasis di Helsinki, Finlandia, bersama Greenpeace Asia Tenggara, dan IQAir Air Visual.

Alat ini mengukur kabut asap di 28 kota besar di seluruh dunia dan menggunakan model yang dirancang oleh program penelitian Global Burden of Disease untuk memperkirakan dampak polusi udara terhadap kesehatan manusia.

Tingginya tingkat polusi udara berkorelasi dengan berbagai penyakit seperti gangguan paru kronis, penyakit jantung, stroke, dan kanker paru-paru yang juga berimbas pada produktivitas ekonomi. Potensi kerugian ekonomi akibat polusi udara dihitung dengan memperkirakan faktor-faktor seperti absen kerja dan kehilangan tahun-tahun produktif karena sakit.

Menurut perangkat hitung tersebut, sejak 1 Januari 2020 ada sekitar 29 ribu kematian prematur di Tokyo, Jepang, yang berpenduduk sekitar 37 juta jiwa. Sementara di New Delhi, India, yang berpenduduk sekitar 30 juta, diestimasikan terdapat 24 ribu kematian prematur dan kota Shanghai di Cina mencatat sekitar 27.000 kematian prematur.

Potensi kerugian ekonomi di Indonesia capai puluhan triliun
Sementara itu, menurut data Greenpeace yang diterima DW Indonesia, Kamis (9/7), angka kematian dini akibat polusi udara di Indonesia sejak 1 Januari 2020 diperkirakan mencapai lebih dari 9.000 jiwa. Kematian dini di Jakarta diperkirakan mencapai 6.100 jiwa, di Surabaya mencapai 1.700 jiwa, di Denpasar sebanyak 410 jiwa dan di Bandung sebanyak 1.400 jiwa.

Kerugian ekonomi akibat buruknya kualitas udara di Indonesia juga diperkirakan mencapai puluhan triliun rupiah. Greenpeace mencatat total potensi kerugian ekonomi yang dialami oleh empat kota besar di Indonesia.

Salah satunya yaitu Jakarta yang mencapai Rp 23 triliun atau sekitar 26 persen dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Sementara itu, potensi kerugian ekonomi akibat buruknya kualitas udara di Bandung diperkirakan mencapai Rp 5,34 triliun, di Surabaya mencapai Rp 6,35 triliun dan sebesar Rp 1,44 triliun di Denpasar.

Kualitas udara Jakarta tidak membaik
Greenpeace menilai penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) karena wabah COVID-19, tidak terlalu berdampak pada perbaikan kualitas udara di Jakarta. Kualitas udara di ibu kota Indonesia itu dinilai tetap dalam kisaran yang sama bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Organisasi lingkungan tersebut mengungkapkan berdasarkan citra satelit dan analisis yang disusun CREA, tingkat polusi PM2.5 di Jakarta tetap tinggi. Namun konsentrasi senyawa nitrogen dioksida atau NO2 memang menurun sebanyak 33 persen.

Penurunan konsentrasi NO2 di Jakarta sebagian besar disebabkan oleh penurunan kegiatan pada sektor transportasi dan industri selama masa PSBB. Akan tetapi penurunan ini tidak berlangsung lama.

Bondan Andriyanu, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia mengatakan, sejak masa transisi PSBB justru terlihat tren kenaikan polusi udara di Jakarta. Dalam masa PSBB transisi, konsentrasi PM2.5 dan NO2 di Jakarta justru terus meningkat. Bahkan pada 15 Juni, Jakarta berada di daftar lima kota dengan kualitas udara terburuk di dunia, demikian menurut database IQAir Visual.

Bondan mengatakan bahwa kualitas udara aktual di Jakarta menunjukkan, solusi pemerintah untuk menghadapi masalah polusi udara masih jauh dari optimal. "Perlu ada langkah nyata dan rencana jangka panjang dari pemerintah," ujar Bondan.


Upaya yang dapat dilakukan antara lain, memberikan data polusi udara secara realtime kepada publik dengan menyediakan alat pantau yang representatif, melakukan upaya mitigasi atas bahaya polusi udara dan mengedukasi publik akan bahaya dan dampak polusi udara bagi kesehatan. Selain itu perlu juga ada langkah bersama antara pemerintah daerah guna mengatasi polusi udara lintas batas.

sumber: https://www.dw.com/id/polusi-udara-tahun-2020-tewaskan-98-ribu-orang-di-seluruh-dunia/a-54115364

Berita Terkait
  • Inilah Penyebab Risiko Kematian Penderita Covid-19 Meningkat
  • Polusi Udara di China Kembali Meningkat
  • Pertama Kali CO2 India Turun Tajam dalam Empat Dekade
Berita Lainnya
  • Nilai Manfaat dari Dana Kelolaan Haji BPKH, Halal atau Riba?
  • 900 Paket Bansos Presiden Disalurkan Lewat Fatayat NU Depok

Polusi Udara Tewaskan 98 Ribu Orang di Seluruh Dunia

Polusi Udara Tewaskan 98 Ribu Orang di Seluruh Dunia

Polusi Udara Tewaskan 98 Ribu Orang di Seluruh Dunia

Polusi Udara Tewaskan 98 Ribu Orang di Seluruh Dunia

Polusi Udara Tewaskan 98 Ribu Orang di Seluruh Dunia

  
PARTNER KAMI
JPNN
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya