0
Thumbs Up
Thumbs Down

Pengadilan Prancis Perintahkan Twitter Ungkap Upaya Atasi Ujaran Kebencian

Republika Online
Republika Online - Fri, 21 Jan 2022 12:05
Dilihat: 54
Pengadilan Prancis Perintahkan Twitter Ungkap Upaya Atasi Ujaran Kebencian

PARIS - Pengadilan banding Paris memutuskan untuk memerintahkan Twitter mengungkapkan rincian tentang upaya mengatasi ujaran kebencian online di Prancis, Kamis (20/1) waktu setempat. Keputusan tersebut memberikan kemenangan bagi kelompok advokasi yang menilai Twitter tidak cukup berusaha untuk menekan konten kebencian.

Putusan tersebut menguatkan keputusan pengadilan yang lebih rendah pada tahun lalu. Putusan pengadilan sebelumnya memerintahkan Twitter untuk memberikan perincian tentang jumlah, kebangsaan, lokasi dan bahasa lisan orang-orang yang dipekerjakannya untuk memoderasi konten pada platform versi Prancis.

Keputusan pengadilan yang lebih rendah juga mengharuskan Twitter untuk mengungkapkan dokumen kontrak, administratif, komersial, dan teknis apa pun yang akan membantu menentukan sumber daya keuangan dan manusia yang telah dikerahkan untuk memerangi ujaran kebencian online di Prancis. Pengadilan banding mengatakan, pihaknya mengkonfirmasi, secara penuh, putusan pertama.

Pihaknya mengatakan Twitter harus membayar ganti rugi 1.700 dolar AS kepada masing-masing dari enam penggugat. Seorang juru bicara Twitter mengatakan, prioritas utama perusahaan adalah untuk memastikan keselamatan orang-orang yang menggunakan platformnya. Twitter menambahkan bahwa kelompok itu sedang meninjau keputusan pengadilan.

Putusan ini juga memberikan amunisi kepada juru kampanye di negara lain di Eropa yang menginginkan kendali lebih ketat Twitter. Hal ini guna mencegah konten rasis dan diskriminatif fi Twitter dan platform media sosial lainnya.

Para penggugat juga sangat gembira. Enam kelompok lobi yang menggugat Twitter telah menyatakan bahwa hanya sebagian kecil dari pesan kebencian yang dihapus dari platform 48 jam setelah mereka diberi sinyal.

"Saya bosan dengan pemerintahan ini di mana segala sesuatu diperbolehkan dan di mana 'dilarang untuk dilarang'," kata Marc Knobel, presiden J'Accuse! (I Accuse), salah satu kelompok, mengacu pada slogan terkenal yang tersebar di tembok Paris selama protes tahun 1968.


"Kita harus menghentikan delusi ini: tidak semuanya harus diizinkan di masyarakat kita," ujarnya menambahkan.

Berita Terkait
  • Twitter Blokir Miliarder Meksiko, Kenapa?
  • Twitter Spaces Akhirnya Bisa Direkam
  • Putri Tanjung Viral di Twitter, Curhat Rugi Ratusan Juta
Berita Lainnya
  • Israel Hapus Karantina Wajib Bagi Anak yang Tertular Covid-19
  • Sebuah Rekor Diukir oleh Ancelotti saat Bawa Madrid Kalahkan Elche

Pengadilan Prancis Perintahkan Twitter Ungkap Upaya Atasi Ujaran Kebencian

Pengadilan Prancis Perintahkan Twitter Ungkap Upaya Atasi Ujaran Kebencian

Pengadilan Prancis Perintahkan Twitter Ungkap Upaya Atasi Ujaran Kebencian

Pengadilan Prancis Perintahkan Twitter Ungkap Upaya Atasi Ujaran Kebencian

Pengadilan Prancis Perintahkan Twitter Ungkap Upaya Atasi Ujaran Kebencian

  
PARTNER KAMI
JPNN
genpi
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
pijar
SeleBuzz
Mobilmo
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya