0
Thumbs Up
Thumbs Down

Miris, Donor Darah Berujung Cacat di Tangan

okezone
okezone - Wed, 25 Nov 2020 18:15
Dilihat: 64
Miris, Donor Darah Berujung Cacat di Tangan

KANADA - Maksud hati ingin melakukan hal mulia, apa daya harus berujung nestapa. Mungkin itu yang dirasakan Gabriela Ekman, 21.

Perempuan asal Ontario, Kanada, ini harus menelan "pil pahit" ketika seorang perawat diduga salah mengambil darah dari salah satu arteri, bukan vena, saat dirinya hendak melakukan donor darah.

Saat itu, Gabriela baru saja berusia 17 tahun ketika dia memutuskan untuk mendonorkan darah untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Dia berharap itu akan membuat perbedaan, bahkan mungkin menyelamatkan nyawa seseorang.

Namun, sebaliknya. Dia tidak tahu hal ini akan mengubah hidupnya selamanya. Empat tahun lalu, Gabriela memutuskan melakukan donor darah yang diselenggarakan oleh Layanan Darah Kanada.

Tidak ada firasat buruk apapun. Namun ketika perawat itu mulai menusukkan jarum suntiknya untuk menarik darah dan mengeluarkan bynyi "whoops", Gabriela tahu ada yang tidak beres.

(Baca juga: 15 Tahun Tidak Potong Rambut, Wanita Ini Disebut "Rapunzel" Jepang)

Tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Bahkan ketika staf berkomentar tentang bagaimana darahnya yang mengandung oksigen, sebuah indikasi jika darah itu kemungkinan berasal dari arteri, bukan dari vena.

"Mungkin sekitar 10 sampai 15 menit kemudian saya mulai merasa ada yang tidak beres. Saya tidak pernah mendonorkan darah sebelumnya, jadi saya tidak tahu apa yang diinginkan," terang Gabriela kepada CTV News baru-baru ini.

Usai mendonorkan darah, Gabriela pun pulang ke rumah dan mulai merasakan sakit di lengannya. Dia pun pergi ke rumah sakit untuk memeriksanya. Namun dokter tidak menemukan hal yang salah dan menyuruhnya pulang.

Pada minggu-minggu berikutnya, tangannya terasa begitu berat. Dia pun tidak bisa meluruskan lengannya, dan mengalami memar dari pergelangan tangan hingga ke bahunya.

Dia pun memutuskan kembali ke rumah sakit. Saat itulah dia tahu jika dia hampir kehilangan nyawa jika terlambat ke rumah sakit.

"Saat itulah saya mendapat konfirmasi jika pengambilan darah saya pasti berasal dari arteri bukan dari pembuluh darah saya," ujarnya.

Dia pun langsung menjalani operasi darurat di lengannya untuk menghentikan pendarahan, menghilangkan bekuan darah yang telah berkembang, dan menutup lubang di arteri. Itu menyelamatkan nyawanya, tetapi tampaknya tidak mengurangi rasa sakit yang menyiksa dan lenganya tidak bisa bergerak sama sekali.

Meskipun menjalani beberapa prosedur dan sesi fisioterapi lainnya, namun tidak ada yang berhasil. Dokter pun mendiagnosis penyakitnya sebagai bentuk nyeri kronis yang disebut Complex Regional Pain Syndrome (CRPS), kondisi langka yang terkait dengan cedera traumatis.

Dokter hanya mengetahui sedikit tentang kondisi tersebut. Yakni kondisi ini dapat bertahan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, dan ditandai dengan rasa terbakar, bengkak, kejang, dan hipersensitivitas pada anggota tubuh yang terkena.

Hingga saat ini, Gabriela telah hidup dengan CRPS selama empat tahun dan tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang nyata. Mobilitas lengan kanannya masih belum pulih, dan perlu memakai penjepit hampir sepanjang waktu, karena lengannya tidak akan lurus lagi.

"Rasanya seperti menghancurkan hidup saya, masa depan saya hilang. Saya tidak dapat bercermin tanpa memikirkan betapa saya telah disakiti dan bagaimana masa depan saya seperti direnggut dari saya karena mencoba memberikan kehidupan kepada orang lain," ungkapnya.

Saat ini, dia sangat bergantung pada ibunya untuk membantunya melakukan tugas sehari-hari. Seperti memasak dan mengemudi dari satu tempat ke tempat lain. Dia dipaksa untuk menghadiri community college terdekat sehingga dia bisa tinggal bersama keluarganya, dan berjuang dengan sekolahnya karena sakit kronis.

Akibat penyakit ini, mentalnya ikut "drop" dan dia harus perawatan untuk PTSD, kecemasan, dan depresi.


Di sisi lain, dia juga sedang berjuang mencari kompensasi finansial dari Layanan Darah Kanada, setelah organisasi tersebut membatalkan pembicaraan mediasi dengannya pada tiga kesempatan. Kendati kondisinya tidak membaik, Gabriela tetap percaya pada donor darah. Namun dia tidak pernah berpikir jika donor harus membayar "harga setinggi" ini karena ingin membantu orang lain.

Sumber: okezone

Miris, Donor Darah Berujung Cacat di Tangan

Miris, Donor Darah Berujung Cacat di Tangan

Miris, Donor Darah Berujung Cacat di Tangan

Miris, Donor Darah Berujung Cacat di Tangan

Miris, Donor Darah Berujung Cacat di Tangan

  
PARTNER KAMI
JPNN
genpi
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
pijar
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya