0
Thumbs Up
Thumbs Down

Menjawab Sengkarut Backlog Hunian Lewat Kacamata Milenial

wartaekonomi
wartaekonomi - Sat, 22 Feb 2020 21:09
Dilihat: 19
Jakarta

Ben masih bermalas-malasan di atas sofa buluk di sudut ruangan. Di dalam kontrakan mungil yang digunakannya sebagai showroom bersama dengan teman-temannya. Sembari bersantai usai lemburan semalam, pandangan matanya serius tertuju pada layar ponsel di genggamannya.

Jari-jemarinya cukup gesit bergerak dari sudut layar satu ke sudut yang lain. Sesekali dua jarinya memencet tombol volume dan power secara bersamaan, lalu kembali telunjuknya menari di layar ponsel. Cukup lama juga.

Dengan baju kusut semalam yang belum diganti, dengan tampang kusut baru bangun tidur dan bahkan belum sempat mencuci muka. Sampai kemudian dia menelepon seseorang, "Udah gua ajuin yak. Tinggal entar nunggu dipanggil buat next step. Iya. Luv u," jawab Ben mesra sebelum menutup pembicaraan.

Baca Juga: Emerald Land Resmi Pasarkan Perumahan Dekat Stasiun KRL Cilebut

Ben adalah pebisnis muda. Sejak kecil enggan untuk kelak kerja kantoran, pascalulus kuliah Ben bersama teman-temannya merintis bisnis event organizer (EO) sekaligus memproduksi sendiri berbagai hiasan cantik dari styrofoam, lembaran multipleks dan bahan sejenis untuk keperluan exhibition.

Selain itu, mereka juga berbisnis persewaan sound, panggung, backdrop, dan kebutuhan lain yang masih berkaitan dengan event pameran. Meski bisnisnya terbilang tak menentu dan sangat bergantung pada sedikit-banyaknya order klien, Ben merasa senang karena pekerjaannya begitu dinamis, berbeda dengan bekerja kantoran yang menurutnya sangat membosankan.

Sedangkan sosok di seberang sambungan telepon tadi adalah Zia, kekasih yang ingin dinikahi Ben pada akhir tahun nanti. Sama seperti Ben, Zia juga bukan seorang karyawan kantoran. Berusia sama karena merupakan teman sekelas di bangku SMA, Zia lebih memilih membuka kedai kopi di Kawasan Jakarta Timur bersama dengan seorang teman yang jago meracik kopi. Ruangannya memang tak terlalu luas, namun kesan hangat dan personal justru menjadi 'bahan jualan' Zia, sehingga kedainya terus mampu bertahan sampai dua tahun hingga saat ini.

Dari ruang-ruang kecil itulah, sepetak kedai kopi dan showroom EO, anak-anak muda ini berani merawat mimpinya masing-masing, yang tak lama lagi bakal disatukan menjadi mimpi bersama: membangun bahtera rumah tangga.

Dan salah satu mimpi awal mereka sebelum menikah adalah memiliki hunian sendiri agar kelak usai menikah tak lagi merepotkan keluarga dengan tetap 'numpang hidup' di rumah orangtua. Makanya, keseriusan Ben mengulik ponsel tadi adalah lantaran sedang sibuk berdiskusi dengan Zia via aplikasi Whatsapp (WA) tentang rumah yang ingin mereka beli. Dan beruntung, upaya Ben-Zia memiliki hunian sendiri kini menjadi semakin mudah dengan adanya aplikasi BTN Properti.

Backlog

Ya, bagi kalangan milenial seperti Ben dan Zia, apa yang dilakukan oleh PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) dengan menyediakan one stop solution kebutuhan perumahan dalam satu aplikasi tentu sangat membantu dan memudahkan. Hal ini sesuai dengan strategi yang memang dipilih oleh BTN sebagai penguasa pasar di sektor pembiayaan perumahan untuk berkontribusi maksimal dalam mengurai permasalahan backlog hunian, terutama pada segmen kalangan muda, khususnya bagi generasi milenial.

Sebagaimana yang tergambar dari data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), di mana saat ini diperkirakan sedikitnya 81 juta jiwa dari kalangan milenial yang belum memiliki rumah.

"Ini menurut kami adalah permasalahan serius. Ada gap antara sektor perumahan yang ada sekarang dengan perkembangan di masyarakat, di mana usia produktif saat ini semakin didominasi oleh generasi milenial yang secara habbit dan kebutuhan layanannya sedikit berbeda. Kami sebagai pemain utama (di pembiayaan perumahan) harus paham betul dengan kondisi ini," ujar Direktur Utama BTN, Pahala N Mansury, saat ditemui di Jakarta, awal bulan ini.

Menurut Pahala, pihaknya kini telah menyiapkan sedikitnya lima langkah strategis guna secara khusus merangkul potensi nasabah dari kalangan milenial ini, mulai dari sekadar menyimpan dana, mengajukan kredit perumahan hingga berbagai transaksi lainnya. Peningkatan akses digital masyarakat terhadap layanan BTN, seperti halnya melalui BTN Properti, salah satu dari kelima strategi tersebut.

"(Strategi) Pertama adalah meningkatkan berbagai lini digital (BTN). Kita sama-sama tahu milenial ini selalu menginginkan hal yang praktis. Lewat berbagai kemudahan digital yang ada, kami ingin agar para milenial ini bisa menjadikan BTN sebagai rumah yang nyaman dalam bertransaksi maupun memiliki hunian," tutur pria berkacamata ini.

Sedangkan untuk strategi kedua, menurut Pahala, adalah mengembangkan berbagai segmen bisnis berikut infrastrukturnya. Untuk menunjang strategi tersebut, diperlukan strategi selanjutnya berupa mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), baik dalam hal produktivitas maupun juga dalam hal kapasitas kerja. Strategi tersebut digelar dengan tetap mengedepankan azas prudentialitas.

"(Strategi) Berikutnya, kami juga sedang bersiap menerapkan bisnis model baru yang lebih berfokus pada sektor ritel dan wholesale funding. (Strategi) Ini (diambil) untuk dapat menekan posisi biaya dana demi mendongkrak profitabilitas perusahaan. Selain itu, kami juga tidak ingin hanya dikenal sebagai bank (spesialis pembiayaan) perumahan saja. Kami juga ingin menempatkan posisi sebagai tempat menabungnya para milenial dengan berbagai kemudahan yang diinginkannya," papar Pahala.

Terakhir, strategi kelima, BTN saat ini juga terus mengakselerasi kemitraan dengan berbagai sektor, baik dari sisi pengembang hiingga para pelaku di segmen teknologi keuangan (financial technology/fintech). Keberadaan pelaku fintech dinilai penting sebagai partner bagi BTN dalam memperluas layanan dalam bentuk-bentuk alternatif yang selama ini belum banyak digarap oleh sektor perbankan.

Sedangkan jalinan kerja sama dengan pengembang diharapkan dapat menghasilkan sebuah produk hunian yang lebih sesuai permintaan pasar, dengan berbagai fasilitas yang juga sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini, terutama bagi kalangan milenial.

Fleksibel

Terbaru, kerja sama dengan pengembang dilakukan BTN dengan PT Brantas Abipraya, pengembang properti dengan kepemilikan proyek, di antaranya Arya Green Tajur Halang 1 dan 2 Bogor, Arya Green Pamulang Tangerang Selatan, Urban Height Residence (UHR) Tangerang Selatan, dan Arya Green Kalasan, Yogyakarta.

Kerja sama yang dibangun terkait produk pembiayaan (kredit pemilikan rumah/KPR) bertajuk Home Ownership Program for Employee (HOPE) dengan tenor cicilan mencapai 30 tahun tanpa uang muka (down payment/DP). Skema pembiayaan khusus tersebut berlaku untuk seluruh proyek hunian di bawah naungan pengembang Brantas Abipraya.

"Ini adalah bentuk-bentuk upaya kami agar produk (pembiayaan) yang dihasilkan bisa lebih sesuai dengan yang diinginkan oleh masyarakat. Dengan begitu kami harap dapat lebih memacu agar semua orang bisa segera memiliki rumah idaman," ujar Executive Vice President Nonsubsidized Mortgage & Consumer Lending Division (NSLD) BTN, Suryanti Agustinar, dalam kesempatan terpisah.

Melalui kerja sama dengan PT Brantas Abipraya ini, menurut Suryanti, masyarakat diuntungkan dengan banyaknya kemudahan yang ditawarkan. Misalnya, pembelian satu harga dengan pembebasan biaya provisi, administrasi dan juga BPHTB. Lalu, juga pola angsuran yang ringan dan bahkan bisa mengajukan libur bayar hingga dua tahun, sehingga lebih fleksibel dalam hal waktu pembayaran.

Fasilitas ini tentu sangat membantu kalangan milenial yang karakteristik kerjanya banyak berkecimpung di ranah kreatif atau juga freelance yang tidak terikat pada satu perusahaan secara permanen.

"Dari (kerja sama) ini kami harapkan bisa memperkuat kinerja (pembiayaan) di segmen nonsubsidi, yang sampai akhir tahun nanti diharapkan bisa mencapai Rp17,3 triliun, atau tumbuh sekitar 14,5 persen dari periode tahun lalu," tutur Suryanti.

Keseluruhan gimmick untuk segmen pasar milenial oleh BTN secara umum dikemas dalam wadah program KPR Gaeeesss For Millenials. Tak hanya waktu tenor yang bisa mencapai 30 tahun dan libur bayar hingga dua tahun, BTN juga menawarkan paket DP mulai dari satu persen, penerapan bunga single digit hingga diskon provisi sampai dengan 50 persen. Lantaran sengaja menyasar segmen milenial, keseluruhan penawaran ini telah disiapkan untuk bisa diakses secara instan lewat aplikasi BTN Properti Mobile.

Kritis

Dihubungi terpisah, Pakar Marketing dan Strategi Digital, Yuswohady menyatakan bahwa segmen pasar milenial memang memiliki karakteristik yang sangat khas dan berbeda dibanding klaster-klaster generasi di atasnya. Dalam hal kemampuan finansial saja, misalnya, generasi milenial memang kerap terlihat lebih glamor lantaran seringkali mengedepankan masalah penampilan dan hiburan. Namun jangan juga dianggap bahwa mereka telah mapan secara finansial.

"Justru menurut saya kalangan milenial adalah kelompok masyarakat yang secara finansial paling tidak mapan. Mereka masih muda tapi sebagian malah tidak mau terikat di satu pekerjaan sehingga memilih freelance. Yang bekerja pun rata-rata gajinya juga tidak besar. Dan satu lagi, kalau generasi sebelumnya tidak terlalu menganggap wisata atau hiburan itu penting, bagi milenial (kebutuhan) itu penting. Ini yang membuat mereka secara finansial susah mapan," ujar Yuswohadi.

Dengan berlandaskan kondisi 'kantong' yang demikian, menurut Yuswohadi, secara otomatis dan tanpa sadar bakal mendorong kalangan milenial untuk lebih kritis dalam upayanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Termasuk di antaranya kebutuhan untuk memiliki hunian.

Baca Juga: Masih Sewa Rumah? 13 Tips Ini Wajib Disimak Sebelum Rugi

Kekritisan tersebut akan terjadi dalam berbagai hal, mulai dari bentuk hunian yang minimalis saja asal murah, akses transportasi yang mudah dan juga murah, kewajiban DP yang terjangkau atau malah sebisa mungkin tanpa DP, tenor yang lama hingga fleksibilitas cicilan berupa adanya peluang libur bayar atau malah pelunasan sebelum masanya.

"Mereka akan sangat kritis soal itu. Ini sama halnya dengan kalau kita lihat milenial sukanya nongkrong di kafe, di mal, tapi jangan salah, banyak dari mereka pesen makan-minumnya selalu yang lagi diskon. Jadi hemat. Sama juga soal hunian, ketika makin banyak fasilitas, banyak fleksibilitas, banyak paket diskonnya misal free provisi dan lain-lain, bisa pake aplikasi dan lain-lain, pasti mereka suka. Dan kalau BTN sudah menyiapkan (gimmick) itu semua, artinya bagus. Berarti mereka memang sangat paham kondisi dan kemauan pasar," papar Yuswohadi.

So, jika sekarang akses hunian sudah tersedia dengan demikian mudah, tidak lagi ribet dan semua tersedia dalam satu genggaman, lalu apalagi yang kamu tunggu untuk wujudkan mimpi memiliki rumah idaman, guys?

Penulis: Taufan Sukma

Editor: Rosmayanti


Foto: Taufan Sukma

Sumber: wartaekonomi

Menjawab Sengkarut Backlog Hunian Lewat Kacamata Milenial

Menjawab Sengkarut Backlog Hunian Lewat Kacamata Milenial

Menjawab Sengkarut Backlog Hunian Lewat Kacamata Milenial

Menjawab Sengkarut Backlog Hunian Lewat Kacamata Milenial

Menjawab Sengkarut Backlog Hunian Lewat Kacamata Milenial

  
PARTNER KAMI
JPNN
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya