0
Thumbs Up
Thumbs Down

Meniru Sifat Allah

Republika Online
Republika Online - Thu, 05 Sep 2019 06:06
Dilihat: 27
Meniru Sifat Allah

Oleh: Imam Nawawi

JAKARTA -- Pada bagian-bagian awal kitab Nasha'ihul 'Ibad karya Imam Nawawi al-Bantani dituturkan tentang Imam al-Ghazali yang ditemui dalam suatu mimpi, di mana beliau ditanya, "Bagaimana perlakuan Allah terhadapmu?" Jawab al-Ghazali, "Allah mendudukkan aku di sisi-Nya, seraya bertanya, 'Karena apa Aku membawamu ke sisi-Ku?' Kemudian aku pun menyebutkan serangkaian amalku, tapi Allah menukas, 'Tidak, Aku tidak menerima semua amalan itu. Namun, amalan yang Ku-terima darimu adalah suatu hari, ketika engkau tengah menulis, tiba-tiba lalat hinggap di penamu untuk minum dawatnya. Engkau pun berhenti menulis, dan membiarkan lalat itu memenuhi kebutuhannya karena kasihan terhadapnya.' Lantas Allah Ta'ala pun menitahkan, 'Bawalah hamba-Ku ini ke surga'."

Perilaku luhur yang dicontohkan oleh Sang Hujjatul Islam ini adalah inspirasi dari hadis: "Sayangilah makhluk (orang-orang) yang ada di bumi maka makhluk yang ada di langit pun menyayangimu," (HR Thabrani).

Kasih sayang memang merupakan sifat yang terus melekat pada diri sang Mukmin, karena ia merupakan 'titisan' dari Sang Pencipta, di mana sang Mukmin perlahan-lahan ingin meniru sifat Allah, Yang membahasakan Diri-Nya dengan "kataba 'ala nafsihir-rahmah" (Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang). Atau "wa rahmati wasi'at kulla syai" (dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu).

Demi mewujudkan harmoni di antara makhlukmakhluk Allah, kapan pun dan di mana pun, sifat penyayang kepada makhluk Allah ini terus menguntit sang Mukmin, jauh sebelum kita mendengar istilah Hari Bumi, atau Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Berabad-abad lamanya, Islam sudah menganjurkan umatnya agar merawat planet bumi ini, yaitu dengan menyayangi makhluk sesamanya (manusia) dan makhluk lainnya, baik tetumbuhan, hewani, atau benda mati.

Bagaimana harmoni yang harus terjalin antara kita dan alam, bisa disimak dari ungkapan Nabi ketika baru kembali dari Perang Tabuk, dan hampir mendekati Kota Madinah; sambil menunjuk ke Gunung Uhud, beliau bersabda: "Ini adalah Thabah (nama kota) dan ini Uhud, gunung yang mencintai kita dan kita pun mencintainya," (muttafaqun 'alaih). Sebuah ekspresi yang tulus dari kecintaan baginda terhadap lingkungan, baik lingkungan hidup maupun benda-benda mati.

Karena selain menenteramkan, meniru sifat penyayang Allah ini juga menjadikan seseorang merasa lebih kaya dari apa yang mereka miliki, dan merasa lebih ringan ketika didera suatu masalah.

Bahkan, ada orang yang tetap memupuk dan mempertahankan sifat kasih sayang ini, sekalipun terhadap orang yang menganiaya dirinya. Mengapa begitu? Karena ketika orang yang zalim ini menyadari kekhilafan dirinya, maka ia akan malu sendiri dan melahirkan sikap yang jauh lebih bagus dan lebih terpuji dari orang lain pada umumnya. Meski membalas kezaliman dengan sepadan juga dibolehkan. Wallahu A'lam bish-shawab.


Berita Terkait
  • Kualitas Pribadi
  • Mereka adalah Pakaian Untukmu
  • Menguatkan Makna Hijrah
Berita Lainnya
  • 5 Bahan Alami Untuk Melembutkan Tangan
  • Warga Bantul Diperas Wartawan Gadungan Rp 100 Juta

Meniru Sifat Allah

Meniru Sifat Allah

Meniru Sifat Allah

Meniru Sifat Allah

Meniru Sifat Allah

  
PARTNER KAMI
JPNN
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
inilahcom
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
MuterFilm
Rancahpost
Mobilmo
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya