0
Thumbs Up
Thumbs Down

LRT Bandung Raya Dikebut untuk Atasi Kemacetan

okezone
okezone - Thu, 11 Jul 2019 09:58
Dilihat: 36
LRT Bandung Raya Dikebut untuk Atasi Kemacetan

BANDUNG - Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) tak berhenti berupaya mencari terobosan untuk memecahkan kemacetan yang mendera Kota Bandung.

Salah satu solusi yang segera diwujudkan adalah membangun transportasi massal light rapid transit (LRT) Bandung Raya. Rencana pembangunan LRT Bandung Raya disampaikan lang sung Gubernur Jabar Ridwan Kamil atau Emil lewat akun Instagram pribadinya @ridwan kamil.

Tanpa banyak diketahui, proyek tersebut sudah masuk tahap penetapan rute dan persiapan konstruksi. Dia bahkan menargetkan proyek ini selesai berbarengan dengan mulai beroperasinya Kereta Cepat Jakarta-Bandung pada akhir 2020 atau awal 2021.

Baca juga: LRT Pertama di Indonesia Berhasil Angkut 2 Juta Penumpang dalam 1 Tahun

Pada tahap awal, LRT tersebut akan menghubungkan stasiun ke reta cepat di Tegal Luar, Kabupaten Bandung menuju pusat Kota Ban dung di Stasiun Kebon Kawung dengan stasiun tambahan di depan Masjid Raya Al- Jabbar di Gedebage, Kota Bandung.

Ke depan LRT juga akan meng hu bung kan sejumlah titik di ka was an Bandung Raya. Emil menjelaskan selain meng hu bungkan sejumlah wilayah di Bandung Raya, LRT yang terintegrasi dengan Kreta Cepat Jakarta-Bandung ini pun menjadi penghubung masyarakat pengguna kereta cepat kepusat Kota Bandung.

Sebagai moda transportasi, LRT Bandung Raya akan lebih banyak dimanfaatkan sebagai moda transportasi wisatawan yang datang ke Bandung.

"Desain nya nanti kita modifikasi seperti Bandros (Bandung Tour on Bus) agar bisa dipakai untuk wisata, tidak sama dengan yang di Jakarta," ujar Emil di Bandung.

Baca juga: Jalur LRT Palembang Gelap Gulita, Ini Penyebabnya!

Menurut Emil, pembangun an LRT Bandung Raya akan di lakukan PT Kereta Cepat Indonesia- China (KCIC) yang juga membangun Kereta Cepat Jakarta- Bandung. Emil juga menyebut, PT KCIC berani membiayai proyek ini karena LRT Bandung Raya akan menjadi penghubung masyarakat pengguna Kereta Cepat Jakarta-Ban dung ke Kota Bandung.

Hanya berapa investasi yang harus disiapkan, Emil mengaku belum mengetahuinya secara detail. Namun diperkirakan setiap satu kilometer trase LRT biasanya menghabiskan dana sekitar Rp500 miliar. Sekretaris Daerah (Sekda) Jabar Iwa Karniwa mengaku sudah menawarkan proyek transportasi massal di Bandung kepada investor Eropa saat berkunjung ke Benua Biru itu be ber apa waktu lalu.

"Beberapa calon investor seperti Cross Rail International, mereka salah satu yang bisa mendatangkan atau mengoordinasikan investor dan proyek transportasi massal yang ada di London. (Monorel) di beberapa negara adalah hasil dari mereka dan mereka tertarik untuk melakukan kerja sama," katanya.

Baca juga: Integrasi LRT-BRT, Kemenhub Siapkan O-Bahn Jadi Transportasi Baru

Selain Cross Rail International, lanjut Iwa, ada juga One Work yang berpengalaman menangani integrasi pembangunan. Tidak hanya itu, investor dari Spanyol yang berkantor di London, Basque Trade, juga telah menyatakan keter tarikan nya untuk berinvestasi di Jabar, khususnya di proyek aerocity dan monorel.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Jabar Daddy Rohanandy menyambut antusias rencana pembangunan LRT Bandung Raya. Dia mendorong rencana tersebut segera direaliasi karena bisa menjadi solusi kemacetan lalu lintas yang mengarah ke pusat Kota Bandung maupun sebaliknya.

"Mudah-mudahan segera terwujud. Kita ingin LRT jadi solusi," ujar Daddy.

Daddy bahkan berharap, LRT Bandung Raya terwujud sebe lum Kereta Cepat Jakarta-Ban dung beroperasi. Dia tidak menghendaki para penumpang kereta cepat itu mengalami kesulitan mengakses pusat kota gara-gara kemacetan yang kerap terjadi.

Baca juga: Operasional LRT Jakarta Belum Terbit

Sementara itu pengamat transportasi yang juga Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Jabar Sony S Wibowo mengaku, kawasan Ban dung metropolitan (Bandung, Cimahi, Bandung Barat, Jati nangor) mestinya telah me mi liki LRT sejak 10 tahun lalu.

"Karena memang kota dengan penduduk jutaan memerlukan angkutan umum massal. Dan yang terbukti efektif pun yang berbasis rel," kata Sony kemarin.

Kota metropolitan Bandung Raya, menurut dia, memang mestinya sudah punya angkutan eksklusif. Artinya jalur transportasinya tidak bercampur dengan angkutan lain. Angkutan berbasis rel seperti LRT, menurutnya, paling cocok.

Pengamat transportasi dari Unika Soegijapranata, Semarang, Djoko Setijowarno mengingatkan Pemprov Jabar agar mempersiapkan banyak hal.

"Ini kalau belajar dari LRT Sumsel, berarti banyak hal yang perlu disiapkan. Misalnya konek tivitas LRT harus terint grasi dengan angkutan atau trans portasi lain," ucapnya.

Djoko menjelaskan bahwa integrasi yang dimaksud, pemerintah daerah harus menyiapkan fee der atau angkutan pengumpan LRT.


Sebab angkutan massal seper ti LRT tidak akan bisa menjangkau pusat-pusat permukiman masyarakat. "LRT itu kan tidak sampai di depan rumah warga, berarti harus ada feeder-nya yang sudah siap terlebih dahulu," ungkapnya.

Sumber: okezone

LRT Bandung Raya Dikebut untuk Atasi Kemacetan

LRT Bandung Raya Dikebut untuk Atasi Kemacetan

LRT Bandung Raya Dikebut untuk Atasi Kemacetan

LRT Bandung Raya Dikebut untuk Atasi Kemacetan

LRT Bandung Raya Dikebut untuk Atasi Kemacetan

  
PARTNER KAMI
JPNN
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
inilahcom
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
MuterFilm
Rancahpost
Mobilmo
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya