0
Thumbs Up
Thumbs Down

Kisah Kiai Blitar yang Diasingkan Belanda ke Banda Neira

okezone
okezone - Sun, 24 Oct 2021 15:53
Dilihat: 70
Kisah Kiai Blitar yang Diasingkan Belanda ke Banda Neira

BLITAR - Kiai Mohammad Imam Bukhori, pendiri Ponpes Jatinom, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, sampai akhir hayatnya tetap istiqomah (Konsisten) melawan penjajahan Belanda.

(Baca juga: Kisah Klenik Larangan Bung Tomo Berhubungan Badan Agar Tak Kalah Perang)

Tahun 1938. Sepulang menjalani hukuman pengasingan selama 10 tahun di Pulau Banda Neira. Kiai Bukhori tetap kukuh menolak memakai piring keramik yang dianggapnya sebagai bagian simbol kolonialisme Belanda.

"Sampai akhir hayatnya, setiap makan Kiai Bukhori selalu memakai piring batok kelapa. Hal itu sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme Belanda," ujar Ahmad Khubby atau akrab disapa Gus Bobby, cicit Kiai Bukhori sekaligus pengasuh Ponpes Maftahul Uluum, Jatinom, Kanigoro, Kabupaten Blitar kepada MPI.

(Baca juga: Saat Pangeran Diponegoro Jatuh Cinta Pandangan Pertama dengan Raden Ayu)

Pemerintah Kolonial Belanda menangkap Kiai Bukhori pada tahun 1928. Penangkapan Kiai Bukhori terkait dengan pemberontakan SI (Sarikat Islam) Merah atau Sarekat Rakyat pada November 1926.

"Sampai sekarang kita masih menelusuri, seberapa besar peran Kiai Bukhori dalam pemberontakan 1926," kata Gus Bobby. Sebelum SI terbelah dua menjadi SI Putih pimpinan HOS Cokroaminoto, dan SI Merah pimpinan Semaun. Kiai Bukhori merupakan Ketua SI Blitar.

Pada tahun 1914. Saat SI menggelar pertemuan besar semacam Silatnas (Silaturahmi Nasional) di alon-alon Kota Blitar yang dihadiri HOS Cokroaminoto. Kiai Bukhori memakai Ponpes Jatinom sebagai tempat makan siang para peserta silatnas. Dari alon-alon Kota Blitar, para peserta berjalan kaki menuju Ponpes Jatinom yang jaraknya lumayan jauh.

"Mungkin karena saat itu udara masih bersih dari polusi, sehingga tidak merasakan jauh," terang Gus Bobby. Pemerintah Kolonial Belanda sudah lama mengawasi Kiai Bukhori sebelum aktif di SI. Dari dokumen resmi KITLV (Koninklijk Instituut Voor Taal en Volkenkunde) yang berhasil diperoleh keluarga. Pada tahun 1910, penasehat Kolonial Belanda Urusan Pribumi Godard Arend Johannes Hazeu, membuat catatan sebanyak 15 lembar tentang Kiai Bukhori.

Hazeu seorang Belanda ahli kebudayaan Jawa. Ia murid Snouck Hurgonje yang pada akhir tahun 1907 rutin mengunjungi masjid-masjid di Pulau Jawa. Catatan Hazeu menyebut Kiai Bukhori adalah seorang guru ngaji di pesantren Jatinom Blitar yang pandangannya membahayakan Belanda. Terutama dalam menafsirkan bab Jihad dari Kitab fikih Fathul Qorib. Dalam pidato-pidatonya, Kiai Bukhori menyebut kedudukan Belanda di Indonesia adalah ilegal.

Karenannya, umat Islam wajib melawan, memeranginya. "Catatan Hazeu, Pemerintah Belanda harus hati-hati dengan orang ini (Kiai Bukhori)," terang Gus Bobby. Saat SI pecah, Kiai Bukhori memilih bergabung dengan SI Merah yang sikap perlawanannya terhadap kolonial Belanda lebih radikal. Sejumlah tokoh radikal yang kemudian dicap sebagai komunis berada di Sarekat Rakyat. Semaun, Alimin, Darsono, Tan Malaka dan Haji Misbach.

SI Merah berkantor pusat di Semarang. Sedangkan SI Putih yang kepemimpinannya dipegang Agus Salim, Abdul Moeis, Suryopranoto dan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, berpusat di Yogyakarta. Bagi Gus Bobby, komunis tahun 1926 berbeda dengan komunis tahun 1965.

"Pandangan komunis 1926 berbeda dengan komunis 1965," papar Gus Bobby.

Pemerintah Kolonial Belanda menangkap Kiai Bukhori pada tahun 1928. Selain Kiai Bukhori, Belanda juga meringkus Kiai Abdullah Fakih dari Plosokerep, Blitar. Penangkapan Kiai Bukhori muncul dalam pemberitaan surat kabar saat itu. Ada sebanyak 7 koran yang menurunkan laporan, yakni salah satunya koran Belanda De Locomotife. Semua menyebut, penangkapan Kiai Bukhori, seorang adviser de sarekat rakyat kelahiran Kaligintung, Kulon Progo, Yogyakarta.


"Adviser de sarekat rakyat ini mungkin jabatan penasehat atau semacam dewan syuro Sarekat Rakyat," kata Gus Bobby. Kiai Bukhori memang berasal dari Kaligintung, Kulonprogo, Yogyakarta. Sebagaimana laskar Diponegoro yang lain. Paska kalah dalam Perang Jawa (1825-1830), kiai Bukhori menyelamatkan diri ke Timur. Ia sempat singgah di Ponorogo, Nganjuk dan Pare Kediri, sebelum akhirnya memutuskan bermukim di Blitar.

Sumber: okezone

Kisah Kiai Blitar yang Diasingkan Belanda ke Banda Neira

Kisah Kiai Blitar yang Diasingkan Belanda ke Banda Neira

Kisah Kiai Blitar yang Diasingkan Belanda ke Banda Neira

Kisah Kiai Blitar yang Diasingkan Belanda ke Banda Neira

Kisah Kiai Blitar yang Diasingkan Belanda ke Banda Neira

  
PARTNER KAMI
JPNN
genpi
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
pijar
SeleBuzz
Mobilmo
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya