0
Thumbs Up
Thumbs Down

Kasus Positif Cvid-19 Diproyeksikan Tembus 200 Ribu di Mei

Republika Online
Republika Online - Sat, 28 Mar 2020 06:51
Dilihat: 28
Kasus Positif Cvid-19 Diproyeksikan Tembus 200 Ribu di Mei

JAKARTA -- Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS) memproyeksikan bila tidak ada perubahan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah pusat atau daerah, maka jumlah kasus infeksi Covid-19 akan menembus 2 ribu kasus pada hari ke-35 atau 5 April 2020. Angka kasus kemudian meningkat jadi 10 ribu kasus pada hari ke-50 yaitu 20 April 2020 atau menjelang Ramadhan 24 April 2020.

Jika upaya penanggulangan Covid-19 belum berubah juga, jumlah orang positif Covid-19 diperkirakan akan terus bertambah dan bisa mencapai 200 ribu kasus pada hari ke-70. Kira-kira pada Mei 2020.

Direktur IDEAS Yusuf Wibisono dalam siaran persnya dikutip Sabtu (28/3), menilai hingga kini tindakan umum Indonesia menghadapi wabah Covid-19 masih bersifat lunak. Artinya tindakan hanya berupa imbauan tetap di rumah, social distancing, dan restriksi lunak meliburkan sekolah.

Beberapa daerah telah menerapkan restriksi lebih luas seperti menutup tempat wisata, menutup perkantoran, melarang keramaian, hingga pembatasan kegiatan ibadah.
"Namun tindakan pemerintah daerah ini cenderung sporadis dan tidak terkoordinir," ujarnya pada soft launching hasil riset IDEAS yang bertajuk 'Darurat Covid-19, Masa Kritis Menahan Ledakan', di Kantor IDEAS, Tangerang Selatan.

Yusuf Wibisono menilai, diperlukan perubahan kebijakan untuk mencegah ledakan kasus infeksi Covid-19 secara signifikan dengan menekan kurva laju pertumbuhan kasus. Pada hari ke-70 (10 Mei 2020), IDEAS memproyeksikan dengan tindakan moderat, bukan hanya lunak, kasus infeksi covid-19 berada di kisaran 110 ribu kasus. Namun dengan tindakan tegas angka dapat ditekan hingga kisaran 30 ribu kasus. Tindakan akan menjadi tidak berguna jika terlambat dilakukan.

"Dengan pola saat ini, tanpa perubahan kebijakan, kasus infeksi Covid-19 akan menembus 200 ribu kasus pada hari ke-70," kata pimpinan lembaga think tank Dompet Dhuafa tersebut.

IDEAS melihat kondisi saat ini sudah memenuhi kondisi kedaruratan kesehatan masyarakat. Karena itu pihaknya mendorong pemerintah pusat secepatnya mengambil tindakan tegas sesuai UU No. 6/2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Dalam jangka pendek atau satu pekan, IDEAS merekomendasikan beberapa hal. Pertama menetapkan karantina total Jabodetabek. Karantina Jakarta saja tidak memadai, karena telah menyatunya aktivitas warga Jabodetabek. Kedua menetapkan pembatasan sosial berskala besar di Jawa di luar Jabodetabek, terutama melarang aktivitas mudik/pulang kampung.

Kemudian dalam jangka menengah (2-3 pekan), pihaknya merekomendasikan pertama menetapkan karantina Pulau Jawa secara total. Ia menjelaskan dengan kepadatan penduduk Jawa di kisaran 1.100 jiwa per km persegi, lima kali lipat lebih padat dari Italia, menjadi krusial membatasi aktivitas Jawa secara masif.

"Pembatasan sosial berskala besar di Wilayah Indonesia selain Jawa. Dua, Meski kepadatan penduduk luar Jawa rendah, namun karena penyebaran wabah telah meluas di hampir seluruh wilayah, tetap dibutuhkan pembatasan sosial berskala besar untuk menekan penyebaran di luar Jawa," ujarnya.

"Berdasarkan pola penggandaan di berbagai negara, kasus infeksi Covid-19 mengalami ledakan eksponensial ketika di masa awal pandemi tidak dilakukan tindakan-tindakan tegas untuk menahan mobilitas dan interaksi orang yang masif. Proyeksi mengkhawatirkan ini mengharuskan adanya perubahan kebijakan yang drastis untuk menahan ledakan jumlah korban dan ini harus dilakukan secepatnya," ujarnya.

Ia menambahkan, Indonesia kini memasuki fase kritis dalam menghadapi pandemi Covid-19, sejak pertama kali secara resmi mengumumkan kasus tersebut. Per 26 Maret 2020, terdapat 893 kasus positif terinfeksi Covid-19 di Indonesia dengan 78 orang meninggal dunia. Fakta tersebut menjadikan Indonesia salah satu negara dengan tingkat kematian dari kasus infeksi (case fatality rate) tertinggi di dunia yaitu 8,7 persen.

Fatality rate (tingkat kematian) Indonesia yang kini 8,7 persen menunjukkan dua kemungkinan. Pertama, sistem kesehatan nasional telah mencapai batas kapasitasnya. Kedua adanya ketidaksiapan pemerintah menghadapi dan mendeteksi penyebaran wabah Covid-19.

"Jika fatality rate di kisaran normal, dengan asumsi konservatif 3,5 persen, kasus infeksi Covid-19 yang sesungguhnya kini telah mencapai kisaran 2.229 kasus," ujarnya.



Berita Terkait
  • Pakar Terangkan Cara Baca Hasil Tes Cepat Covid-19
  • Infografis 10 Langkah Sistematis Saudi Tangani Covid 19
  • Erick Thohir Minta Semua Disiplin Ikut Anjuran Pemerintah
Berita Lainnya
  • Krisis Covid-19 Bisa Buat Timo Werner Bertahan di Leipzig
  • Tiga Dosa Besar 'Terakhir'

Kasus Positif Cvid-19 Diproyeksikan Tembus 200 Ribu di Mei

Kasus Positif Cvid-19 Diproyeksikan Tembus 200 Ribu di Mei

Kasus Positif Cvid-19 Diproyeksikan Tembus 200 Ribu di Mei

Kasus Positif Cvid-19 Diproyeksikan Tembus 200 Ribu di Mei

Kasus Positif Cvid-19 Diproyeksikan Tembus 200 Ribu di Mei

  
PARTNER KAMI
JPNN
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya