0
Thumbs Up
Thumbs Down

Jangan Lagi Deh Minta Lockdown Jakarta, Dampaknya Bikin Merinding Lho!

wartaekonomi
wartaekonomi - Fri, 27 Mar 2020 22:01
Dilihat: 22
Jakarta

Kementerian Keuangan mengaku telah menyiapkan anggaran bila lockdown menjadi opsi dalam memutus penyebaran wabah virus corona di Indonesia. Kendati begitu, Kemenkeu menyatakan sangat kecil kemungkinan bila Indonesia mengambil opsi lockdown.

Lalu, bagaimana dampaknya bagi perekonomian bila lockdown benar-benar direalisasikan, termasuk Ibu Kota DKI Jakarta? Ekonom Indef, Bhima Yudhistira, memaparkan, lockdown di Jakarta saja sudah cukup membuat pertumbuhan ekonomi RI anjlok drastis alias minus sepanjang 2020.

Baca Juga: Lockdown Jakarta Dibandingkan Tegal, Said Didu: Woi, Anies Bisa Dibui

"Diperkirakan pertumbuhan ekonomi menyentuh angka negatif," ujar Bhima kepada Warta Ekonomi di Jakarta, Jumat (27/3/2020).

Menurutnya, banyak sekali rentetan dampak negatif bila lockdown dilakukan di Jakarta. Pertama, soal ketersediaan pangan tentu tidak siap karena sebagian besar kebutuhan pokok disumbang dari daerah luar Jakarta. Arus distribusi barang akan terganggu jika lockdown dilakukan.

"Kelangkaan bahan pokok khususnya jelang Ramadhan akan menyeret kenaikan harga. Inflasi tembus di atas 6% merugikan daya beli masyarakat se-Indonesia," jelasnya.

Kedua, panic buying masyarakat Jakarta belum bisa diantisipasi. Jadi ketika lockdown diumumkan, masyarakat yang panik akan menyerbu pusat perbelanjaan. Bukan hanya makanan minuman, tapi juga obat-obatan bisa ludes tak tersisa.

"Kemarin waktu panic buying di beberapa daerah, pemerintah tidak punya pencegahan apapun. Yang saya khawatirkan masyarakat menengah bawah, kemampuan untuk menimbun bahan pangan tidak sekuat kelas atas. Angka kemiskinan bisa naik, bahkan bisa menyebabkan kelaparan massal di Jakarta," paparnya.

Ketiga, kalau lockdown dilakukan, aktivitas semua perusahaan yang kantor pusatnya di Jakarta akan terganggu karena peredaran uang sebagian besar di Jakarta. Secara lebih luas, ada 1,2 juta unit kantor di Jabodetabek, kemudian ada 7,3 juta orang karyawan di wilayah tersebut.

"Mereka ini kan tidak hanya menetap di Jabodetabek, tapi juga berasal dari daerah sekitarnya. Pastinya pendapatan terganggu. Padahal, banyak pekerja yang punya cicilan motor, rumah, tagihan listrik, dan utang lainnya. Pemerintah harus pikirkan kelompok rentan ini juga," ucap Bhima.

Kemudian yang terakhir, pelaku UMKM akan kena imbas paling parah, driver ojol tidak bisa bekerja. "Gelombang PHK naik, pertumbuhan ekonomi bisa anjlok signifikan. Krisis makin cepat," tutupnya.

Penulis: Fajar Sulaiman

Editor: Puri Mei Setyaningrum


Foto: Aprillio Akbar

Sumber: wartaekonomi

Jangan Lagi Deh Minta Lockdown Jakarta, Dampaknya Bikin Merinding Lho!

Jangan Lagi Deh Minta Lockdown Jakarta, Dampaknya Bikin Merinding Lho!

Jangan Lagi Deh Minta Lockdown Jakarta, Dampaknya Bikin Merinding Lho!

Jangan Lagi Deh Minta Lockdown Jakarta, Dampaknya Bikin Merinding Lho!

Jangan Lagi Deh Minta Lockdown Jakarta, Dampaknya Bikin Merinding Lho!

  
PARTNER KAMI
JPNN
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya