0
Thumbs Up
Thumbs Down

Ini Alasan Pemerintah Rapid Test Meski Akurasi Rendah

Republika Online
Republika Online - Mon, 13 Jul 2020 16:39
Dilihat: 197
Ini Alasan Pemerintah Rapid Test Meski Akurasi Rendah

JAKARTA -- Pemerintah mengungkapkan alasan di balik penggunaan rapid test kendati akurasinya terbilang rendah, yakni jumlah kit PCR yang masih terbatas. Sejumlah pihak memang mendesak pemerintah untuk lebih memprioritaskan PCR test atau tes cepat molekular ketimbang rapid test yang selama ini digunakan sebagai syarat utama bepergian jarak jauh.

"Tetapi selama PCR ini belum terpenuhi maka jalan tengahnya untuk sementara dulu adalah rapid test," kata Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo seusai rapat terbatas bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi), Senin (13/7).

Kendati demikian, Doni menekankan bahwa pemerintah memang berupaya agar PCR test dan tes cepat molekular (TCM) bisa digunakan lebih luas lagi, sebagai pengganti dari rapid test. Namun, menurut Doni, butuh waktu untuk sepenuhnya mengganti rapid test dengan PCR.

"PCR test harus menjadi prioritas utama. Walaupun sudah ada ketentuan dari Menkes untuk dilakukan rapid test, tetap kita akan berupaya arahnya ke depan adalah untuk PCR test. Karena memang ini menjadi tingkat akuratnya paling bagus, paling tinggi," katanya.

Selain itu, ujar Doni, Presiden Jokowi juga menekankan pentingnya memperluas pelacakan dan pengecekan apabila ditemukan ada satu saja kasus positif. Pelacakan dan tes Covid-19 harus dilakukan bukan hanya kepada mereka yang bestatus PDP atau ODP, tetapi bagi orang tanpa gejala yang memang memiliki riwayat kontak dekat dengan pasien positif.

"Tentunya kalau positif harus betul-betul disiplin untuk melakukan karantina atau isolasi mandiri. Termasuk juga karantina atau isolasi yang disediakan oleh pemerintah di daerah," jelas Doni.

Pemerintah daerah juga diminta secara tegas mencegah terjadinya kerumunan, baik dalam aktivitas olahraga, rekreasi, atau kegiatan lain yang memunculkan potensi penularan di tengah keramaian. Warga pun diminta secara penuh kesadaran menghindari untuk menetap di tengah kerumunan dan ruang tertutup dalam waktu lama.

"Presiden kan selalu katakan, tekan rem dan gas seimbang. Jadi kalau ada kasus yang meningkat silakan direm tapi bukan berarti semua kegiatan harus ditutup secara total. Dibatasi kegiatannya baik terutama untuk waktu kegiatan termasuk jumlah, aktivitas manusia yang ikut terlibat di dalamnya," katanya.


Berita Terkait
  • Kematian Akibat Covid-19 di Meksiko Lampaui Italia
  • Gugus Tugas Pertimbangkan Sekolah Dibuka di Zona Kuning
  • Amitabh Bachchan Sekeluarga Positif COVID-19, Termasuk Aishwarya Rai
Berita Lainnya
  • Ada Rindu Hingga Kebiasaan Baru di Tahun Ajaran Baru
  • Mulai 27 Juli, Tak Pakai Masker Kena Denda Rp 100 Ribu

Ini Alasan Pemerintah Rapid Test Meski Akurasi Rendah

Ini Alasan Pemerintah Rapid Test Meski Akurasi Rendah

Ini Alasan Pemerintah Rapid Test Meski Akurasi Rendah

Ini Alasan Pemerintah Rapid Test Meski Akurasi Rendah

Ini Alasan Pemerintah Rapid Test Meski Akurasi Rendah

  
PARTNER KAMI
JPNN
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya