0
Thumbs Up
Thumbs Down

Hasto: Kesadaran tentang Makna Sejarah Nadiem Rendah

Republika Online
Republika Online - Sun, 20 Sep 2020 11:34
Dilihat: 50
Hasto: Kesadaran tentang Makna Sejarah Nadiem Rendah

JAKARTA -- Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menolak keras berbagai bentuk pragmatisme pendidikan, termasuk menghilangkan mata pelajaran Sejarah dari Kurikulum SMA dan SMK. Hasto mengatakan, PDI Perjuangan sangat menyesalkan sosok seperti Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim memiliki kesadaran yang rendah tentang makna sejarah.

"Mendikbud Nadiem Makarim tidak paham bagaimana api perjuangan kemerdekaan bangsa lahir atas pemahaman sejarah, dan kemudian memunculkan kesadaran kritis untuk melawan penjajahan; melawan kapitalisme, imperialisme, dan kolonialisme," kata Hasto dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Ahad (20/9).

Dia mengatakan, seluruh kader PDIP Perjuangan diajarkan suatu pesan bahwa mereka boleh meninggalkan gedung museum sejarah, tetapi jangan pernah meninggalkan sejarah. Suatu bangsa akan kehilangan masa depan apabila meninggalkan sejarah. Hasto meminta kepada Nadiem untuk melihat pendidikan dalam pengertian luas, yakni pendidikan yang meletakkan dasar budi pekerti, pendidikan karakter bangsa, sebagai dasar dari kemajuan, dan dengannya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi akan berjalan beriringan sesuai sejarah dan kebudayaan bangsa.

"Belajarlah dari para pendiri bangsa. Belajar ilmu pengetahuan dan teknologi dari Barat dan berbagai belahan dunia lainnya, namun membumikan setiap pengetahuan pada akar sejarah dan kebudayaan bangsa," ujarnya.

Sebelumnya muncul wacana bahwa Kemendikbud akan menghapus pelajaran Sejarah dari kurikulum. Namun hal tersebut sudah dibantah oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kemendikbud Totok Suprayitno.

Totok menegaskan, pelajaran sejarah tetap akan ada di dalam kurikulum. Penyederhanaan kurikulum yang dilakukan pihaknya saat ini masih tahapan awal karena membutuhkan proses pembahasan yang panjang. "Rencana penyederhanaan kurikulum masih berada dalam tahap kajian akademis," kata Totok, dalam keterangannya, Jumat (18/9).

Totok menjelaskan, pelajaran sejarah tetap akan diajarkan dan diterapkan di setiap generasi. Dia menegaskan, Kemendikbud mengutamakan sejarah sebagai bagian penting dari keragaman dan kemajemukan perjalanan hidup bangsa Indonesia baik saat ini atau yang akan datang.

"Sejarah merupakan komponen penting bagi Indonesia sebagai bangsa yang besar sehingga menjadi bagian kurikulum pendidikan. Nilai-nilai yang dipelajari dalam sejarah merupakan salah satu kunci pengembangan karakter bangsa," kata dia lagi.


Berita Terkait
  • PGRI: Menghapus Mapel Sejarah Tindakan yang Berbahaya
  • Wakil Ketua MPR RI Kritisi Mendikbud Soal Mapel Sejarah
  • Hasto: Kader yang tidak Dukung Cakada akan Disanksi
Berita Lainnya
  • Rayakan Hari Nasional, Arab Saudi Gelar Konser di TIga Kota
  • Jalan Rahasia Sultan Turki di Istana Topkap Dibuka Kembali

Hasto: Kesadaran tentang Makna Sejarah Nadiem Rendah

Hasto: Kesadaran tentang Makna Sejarah Nadiem Rendah

Hasto: Kesadaran tentang Makna Sejarah Nadiem Rendah

Hasto: Kesadaran tentang Makna Sejarah Nadiem Rendah

Hasto: Kesadaran tentang Makna Sejarah Nadiem Rendah

  
PARTNER KAMI
JPNN
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya