0
Thumbs Up
Thumbs Down

Google Angkat Suara Soal Pelarangan Aplikasi di Ponsel Huawe

Republika Online
Republika Online - Tue, 25 Feb 2020 05:06
Dilihat: 45
Google Angkat Suara Soal Pelarangan Aplikasi di Ponsel Huawe

CALIFORNIA-- Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memasukkan Huawei ke dalam daftar karena mengganggap pabrikan China itu menjadi ancaman bagi keamanan nasional. Trump menduga Huawei memiliki hubungan dekat Pemerintah China.

Setelah Huawei dimasukkan dalam daftar, perusahaan itu dilarang mengakses rantai pasokan AS yang menghabiskan 11 miliar dolar AS pada 2018. Seperti yang dilansir dari Phone Arena, Senin (24/2) karena larangan tersebut, Huawei tidak diizinkan untuk melakukan perjanjian lisensi dengan Google.

Google menerbitkan artikel pendukung yang menguraikan fakta pada 16 Mei 2019, pemerintah AS menempatkan Huawei pada Daftar Entitasnya. Tindakan pemerintah ini melarang semua perusahaan AS, termasuk Google untuk berkolaborasi dengan Huawei.

Ini berarti Google dilarang bekerja sama dengan Huawei pada model perangkat baru atau menyediakan aplikasi Google, termasuk Gmail, Maps, YouTube, Play Store dan lainnya untuk memuat atau mengunduh di perangkat ini.

Google memberi tahu pemilik ponsel Huawei baru untuk tidak melakukan sideload aplikasi Google di perangkat. Google kemudian menyebutkan telah difokuskan untuk melindungi keamanan penggunanya yang menggunakan ponsel Huawei yang lebih lama.

"Kami terus bekerja dengan Huawei, sesuai dengan peraturan pemerintah untuk menyediakan pembaruan keamanan dan aplikasi dan layanan Google pada perangkat yang ada dan kami akan terus melakukannya selama diizinkan," begitu yang tertulis halaman dukungan Google.

Undang-Undang AS saat ini memungkinkan Google untuk hanya bekerja dengan Huawei pada model perangkat yang tersedia untuk umum pada atau sebelum 16 Mei 2019. Google juga menjelaskan ponsel Huawei yang diluncurkan sebelum 16 Mei 2019, tetapi sekarang dirilis wilayah lain di dunia dianggap sebagai handset baru dan tidak dapat dilisensikan untuk menggunakan layanan seluler Google.

Meskipun ada larangan, Huawei masih berhasil mengirimkan 240 juta handset tahun lalu. Itu tidak cukup bagi Samsung untuk mengambil alih posisi Huawei sebagai posisi produsen ponsel terbesar di dunia, tetapi berhasil menempati posisi di tempat kedua depan Apple.

Ini karena konsumen China yang patriotik menganggap Huawei sebagai korban penindasan AS dan ternyata dalam jumlah besar membeli handset Huawei. Di China, sebagian besar aplikasi Google tetap dilarang yang berarti model internasional perusahaan adalah yang terkena dampak larangan tersebut.


Berita Terkait
  • Demi Cegah Huawei Pimpin Pasar Jaringan 5G, Jajaran Trump Bakal Lakukan Hal Ini
  • Huawei Bilang Corona Tak Beri Dampak Masif ke Bisnisnya, Analis Ragu
  • Kecepatan Download Ericsson Capai Angka 4,3 Gbps! Huawei Kalah
Berita Lainnya
  • Arsul Sani: Salam Pancasila tak Bisa Gantikan Salam Agama
  • Pasien Diduga Corona di RSHS Pernah Pergi ke Thailand

Google Angkat Suara Soal Pelarangan Aplikasi di Ponsel Huawe

Google Angkat Suara Soal Pelarangan Aplikasi di Ponsel Huawe

Google Angkat Suara Soal Pelarangan Aplikasi di Ponsel Huawe

Google Angkat Suara Soal Pelarangan Aplikasi di Ponsel Huawe

Google Angkat Suara Soal Pelarangan Aplikasi di Ponsel Huawe

  
PARTNER KAMI
JPNN
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya