0
Thumbs Up
Thumbs Down

Ekspor Buah Bali Terhambat

Nusabali
Nusabali - Tue, 29 Sep 2020 13:43
Dilihat: 34
Ekspor Buah Bali Terhambat
DENPASAR,
Minimnya penerbangan karena penutupan border di banyak negara akibat pandemi Covid-19, menghambat ekspor Bali. Terutama ekspor produk-produk atau komoditas segar di antaranya buah-buahan dan hortikultura lainnya. Kalaupun ekspor sebagian besar lewat Jakarta, dengan tarif kargo yang berlipat-lipat.

Anak Agung Gede Agung Wedathama, seorang eksportir, menuturkan persoalan tersebut, Senin (28/9). Ongkos kargo perkilogram Rp 20 ribu misalnya, sekarang membengkak hingga Rp 60 ribu perkilogram. Kenaikan ongkos kargo sampai 300 persen. "Inilah yang menghambat," ujar pria sekaligus tokoh petani muda asal Buleleng, yang akrab disapa Gung Weda.

Keadaan tersebut lanjutnya, memang karena faktor tidak adanya penerbangan atau kargo udara dari Bali. Otomatis persediaan kargo terbatas, sehingga ongkosnya naik. "Memang sesuai dengan faktor supply and demand," ujarnya bernada memaklumi.

Namun tetap saja faktor ongkos kargo mahal itulah yang menjadi penghambat produk buah-buahan segar dari Bali.

Padahal kualitas produk buah-buahan di Bali sangat kompetitif. Mutu buah Bali tidak kalah dengan produk dari Thailand, Uganda yang disebut sebagai pesaing Bali. Gung Weda mencontohkan permintaan buah naga, mangga dan salak Bali ke Republik Ceko sebelumnya. "Mereka (Eropa dan Timur Tengah) menyukai produk buah segar Bali," ungkap Gung Weda.

Untuk ekspor produk yang fresh, jelas Gung Weda, tentu harus memanfaatkan kargo. Tidak mungkin menggunakan kontainer, karena waktu tempuh lama, sehingga produk sudah keburu rusak. Beda dengan produk lain seperti handicraft dengan kontainer melalui laut.

"Ekspor harus dilakukan, karena kita (di Bali) sudah tidak ada uang ini," tandasnya. Karena tidak ada pemasukan lagi itulah, mengapa ekspor mesti digalakkan untuk memperoleh pendapatan.

Hal senada disampaikan I Nengah Sumerta, yang juga pelaku bisnis hortikultura asal Buleleng. "Tidak ada penerbangan (dari Bali) menyebabkan ongkos kargo naik," ujarnya.

Baik Gung Weda dan Sumerta optimis, ekspor produk buah segar dan hortikultura akan lebih bagus. Optimisme tersebut, dengan alasan banyak negara-negara yang sesungguhnya membutuhkan produk impor untuk memenuhi keperluan pangan warganya. "Karena pandemi kan banyak yang perlu bahan kebutuhan pokok," ujar Sumerta. Termasuk kebutuhan sayur-mayur dan lainnya.

Sebelumnya Kepala Balai Karantina Pertanian Denpasar Putu Terunanegara menyatakan tidak adanya penerbangan, menyebabkan ekspor Bali mengalami hambatan. Walau demikian bukan berarti sepi sama sekali. Hanya volumenya tidak banyak dan sebagian dilakukan lewat luar daerah seperti dari Jakarta.

Meski demikian lanjut Terunanegara, Karantina terus melakukan pendampingan untuk menjaga kualitas produk ekspor sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan negara tujuan. Antara lain yang jadi atensi vanili, buah mangga, manggis buah naga dan juga salak. *k17
Sumber: Nusabali

Ekspor Buah Bali Terhambat

Ekspor Buah Bali Terhambat

Ekspor Buah Bali Terhambat

Ekspor Buah Bali Terhambat

Ekspor Buah Bali Terhambat

  
PARTNER KAMI
JPNN
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya