0
Thumbs Up
Thumbs Down

Cegah Grubug Agung Tahun 1955 Terulang

Nusabali
Nusabali - Thu, 26 Nov 2020 13:16
Dilihat: 44
Cegah Grubug Agung Tahun 1955 Terulang
Ritual ini digelar mengingat masyarakat pernah mengalami grubug agung atau maha wabah penyakit tahun 1955 hingga 1.500an warga meninggal. Pacaruan menggunakan sarana Bebek Ireng (hitam).

Prosesi dipuput Ida Pedanda Sunia dari Griya Sunia Manuaba, Desa Tampaksiring. Undangan dibatasi, hanya beberapa pamangku, tokoh puri, tokoh desa adat dan dinas di wawidangan Tampaksiring.

Penggagas prosesi Caru Ruwat Bumi, Ida Bagus Made Bhaskara, Rabu (25/11), menjelaskan pacaruan ini digelar atas sinergi Pasraman Dharmasila Tampaksiring, Desa Dinas dan Desa Adat setempat. Pacaruan ini digelar mengingat masyarakat setempat pernah melewati pengalaman grubug agung tahun 1955. Wabah penyakit ini mengakibatkan 1.500an warga meninggal. "Wabah penyakitnya yakni muntah dan berak. Kamatian massal ini sampai membuat kuburan baru, sehingga di Desa Tampaksiring kini memiliki dua kuburan," jelasnya.

Wabah itu membuat warga yang putus asa. Akhirnya para tokoh adat menggelar prosesi nedunang sasuhunan (menurunkan pralingga Ida Bhatara,Red) dengan nama ngerebeg. "Setelah itu, tidak sampai satu minggu muntah dan berak yang dialami warga sudah pada sembuh. Kami harapkan Caru Ruwat Bumi ini mampu memulihkan kondisi yang terdampak pandemi Covid-19,'' ujar IB Made Bhaskara, mahasiswa Program Doktor (S3) Pendidikan Agama di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar ini.

Prosesi Caru Ruwat Bumi digelar pukul 16.00 Wita - 18.00 Wita. Diawali dengan nuwur tirta dari pura di wawidangan Tampaksiring. "Karena pandemi, tidak mungkin kami nedunang semua sasuhunan ke Bencingah. Makanya kami nuwur tirta saja, untuk dipercikkan ke seluruh wilayah Tampaksiring dan dimohon warga," sambungnya.

Jelas IB Made Bhaskara, Caru Ruwat ini juga memiliki simbol dan menjadi sumber perwujudan barong dan rangda. Jadi Durga seperti rangda, Kala Maya barong. Semua itu bagian dari kesemestaan. Ada pula pustaka Genta Ki Gebug Lantang. Senjata ini terbuat dari keroncongan sapi untuk memanggil kekuatan halus, bhuta, samar, gamang, termasuk penyakit. "Dalam fragmen sakral terdapat juga ada Sang Hyang Jaran. Sang Hyang Jaran warisan kuno di Tampaksiring, sering dibawakan untuk mengusir wabah. Fragmen ditarikan oleh sisya pasraman," imbuh Bhaskara. *nvi
Sumber: Nusabali

Cegah Grubug Agung Tahun 1955 Terulang

Cegah Grubug Agung Tahun 1955 Terulang

Cegah Grubug Agung Tahun 1955 Terulang

Cegah Grubug Agung Tahun 1955 Terulang

Cegah Grubug Agung Tahun 1955 Terulang

  
PARTNER KAMI
JPNN
genpi
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
pijar
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya