0
Thumbs Up
Thumbs Down

BMKG Latih Petani Pahami Iklim

Republika Online
Republika Online - Sun, 07 Jun 2020 05:44
Dilihat: 45
BMKG Latih Petani Pahami Iklim

TEMANGGUNG -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar Sekolah Lapang Iklim (SLI) virtual di Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Temanggung, Jawa Tengah, Sabtu (6/6). Kegiatan tersebut sebagai langkah antisipatif menghadapi iklim ekstrem di tengah pandemi Covid-19.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan dampak iklim ekstrem sangat berpengaruh terhadap sektor pertanian karena akan mengakibatkan penurunan produksi secara kuantitas maupun kualitas.

Selain itu, berkembangnya hama penyakit disebabkan tidak sesuainya pola tanam dengan kondisi iklim yang kemudian mengancam kualitas produksi hingga gagal panen. Risiko gagal panen yang dialami petani ini tentu saja akan berdampak luas pada sistem ketahanan pangan nasional.

"Petani dan penyuluh pertanian perlu mendapat sosialisasi secara massif tentang iklim. Tujuannya selain produksi yang dihasilkan semakin meningkat, informasi dari BMKG dapat dimanfaatkan secara maksimal guna mendukung sektor pertanian," kata Dwikorita dalam keterangan pers pada Republika.co.id, Sabtu (6/6).

Dwikorita memaparkan, petani dan penyuluh pertanian dibekali sejumlah materi pengetahuan. Di antaranya pengenalan unsur cuaca, alat ukur cuaca dan penakar hujan sederhana, pemahaman informasi dan prakiraan iklim/musim, proses pembentukan hujan, pemahaman iklim/iklim ekstrem hingga materi tentang pengaruh cuaca atau iklim terhadap hama dan penyakit pada tanaman.

Penyampaian materi dan konsultasi dilakukan secara virtual dengan bahasa sederhana agar mudah dimengerti petani dan penyuluh pertanian. "Metode pembelajaran jarak jauh ini dilaksanakan sebagai langkah pemutusan mata rantai penyebaran Covid-19, tanpa menghilangkan substansi pokok dalam SLI," ujar Dwikorita.

Dengan memahami informasi iklim, diharapkan produktivitas pertanian bisa meningkat hingga 30 persen. Jika dulu petani secara tradisional bisa berpatokan pada hari dan bulan, maka sekarang harus berpatokan dengan data, yaitu pola curah hujan tiap wilayah.

BMKG telah memprediksi puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus. Adapun curah hujan diperkirakan masih berlangsung hingga Juni. Percepatan tersebut guna mengantisipasi terjadinya krisis pangan.

"30% wilayah di Indonesia yang memasuki zona musim akan mengalami kemarau lebih kering dari biasanya. Percepatan musim tanam ini dilakukan dengan memanfaatkan sisa curah hujan sebelum memasuki kemarau panjang," sebut Dwikorita.


Berita Terkait
  • Petani Diharapkan Manfaatkan Informasi Iklim BMKG
  • BMKG: Kemarau Tahun Ini tidak Seekstrem 2019
  • Pohon Tumbang Timpa Dua Mobil di Medan
Berita Lainnya
  • Infografis 11 Kewajiban Rumah Ibadah Saat New Normal
  • BMKG Latih Petani Pahami Iklim

BMKG Latih Petani Pahami Iklim

BMKG Latih Petani Pahami Iklim

BMKG Latih Petani Pahami Iklim

BMKG Latih Petani Pahami Iklim

BMKG Latih Petani Pahami Iklim

  
PARTNER KAMI
JPNN
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya